Seperti Ini Kondisi Lockdown Di Negara Tetangga Saat Corona Melanda


Semenjak virus corona atau COVID-19 melanda ratusan negara di dunia, pemerintah berbagai negara menerapkan social distancing atau pembatasan sosial dalam skala yang bervariasi. Tujuannya jelas, yaitu untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Masing-masing negara juga mempunyai sebutan yang berbeda-beda untuk lockdown akibat wabah virus corona ini.

Saya punya beberapa cerita dari teman yang tinggal di negara tetangga dan merasakan perlakuan lockdown di negara tersebut.


Singapura

Teman saya, Ahmad kebetulan sedang tinggal di Singapura pada saat pemerintah Singapura memberlakukan lockdown. Dia memang bukan permanent resident, hanya saja sering bolak balik kesana untuk urusan pekerjaan. Dan dia menceritakan sedikit pengalaman “lockdown” disana.

Sebenarnya pemerintah Singapura tidak kaget dengan skema pembatasan sosial yang saat ini banyak diterapkan di banyak negara. Mereka sudah punya regulasi ini ketika SARS melanda di tahun 2000an. Jadi saat ini mereka hanya perlu memperjelas dan sosialisasi kembali terkait panduan operasionalnya di lapangan.

Singapura memberlakukan Circuit Breaker (sebutan pemerintah untuk pembatasan sosial) mulai dari 7 April hingga 4 Mei 2020.

Untuk hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan kurang lebih mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jakarta.  Operasional yang boleh berjalan normal adalah groceries, healthcare services dan banking seperti pasar, supermarket, apotek, rumah sakit, klinik, dan bank.

Penanganan Corona di Singapura, alurnya sangat jelas. Klinik-klinik yang ditunjuk pemeirntah diberikan panduan operasional untuk menangani pasien dengan gejala Corona. Setiap pasien yang melapor sakit kepada klinik tersebut, diberi batas waktu 5 hari untuk melapor kembali, dan wajib istirahat di rumah selama kurun waktu 5 hari tersebut.

Setelah lewat 5 hari jika sakit berlanjut, klinik akan memberikan rujukan langsung ke Rumah Sakit untuk diberikan perawatan lebih lanjut.

Teman saya ini, termasuk dalam short-term visitor, artinya jika terjangkit Corona, semua biaya perawatan awal akan ditangani dulu oleh pemerintah Singapura, baru kemudian akan ditagihkan kepada pasien. Sedangkan permanent resident, akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Singapura.

Oh ya, ada denda juga yang dikenakan bagi pelanggar aturan dalam Circuit Breaker ini. Dendanya sebesar 1000 SGD atau sekitar 11 Juta Rupiah.


Filipina (Manila)

Sedangkan di Manila, pembatasan sosial disebut Community Quarantine sudah dimulai dari tanggal 15 Maret.

Pada awalnya skema yang disimulasikan di Manila adalah, arus keluar-masuk Manila ditutup, hanya saja aktivitas di dalam kota Manila masih berlangsung seperti biasa. Setelah dievaluasi sehari, pada tanggal 17 Maret 2020 Rodrigo Duterte memerintahkan untuk meningkatkan Community Quarantine menjadi lebih ketat di dalam kota Manila.

Jadi, kurang lebih peraturan yang ada juga sama seperti yang ada di Jakarta dan Singapura saat ini. Hanya saja terdapat ketegasan yang lebih, yaitu setiap orang yang keluar rumah harus punya sertifikat untuk keluar rumah dari pemerintah.

Kemudian ketika orang keluar rumah, dan mereka masuk ke checkpoint yang dijaga tentara dan polisi, sertifikat itu yang akan ditunjukkan kepada tentara/polisi jaga. Sekaligus menjawab beberapa pertanyaan dari mana dan ada keperluan apa keluar rumah.

Bahkan, ada ancaman yang mengerikan juga, bahwa pihak berwajib tidak segan-segan memerintahkan untuk tembak mati bagi orang yang melanggar peraturan Community Quarantine ini.
Penerbangan keluar dan di dalam negeri juga dibatasi. Penerbangan ke Indonesia sudah tidak ada. Ada sih, hanya saja harus melewati Jepang terlebih dahulu. Sedangkan Jepang sudah melarang untuk ada WNA yang masuk kecuali Warga Negara Jepang sendiri. Jadi, praktis tidak ada penerbangan ke Indonesia.

Keadaan alat kesehatan, dan juga kelengkapan APD mirip dengan keadaan di Indonesia. Banyak kekurangan di sana sini. Prioritas penanganan juga diutamakan kepada warga negara Filipina. Warga Indonesia yang ada disana juga lebih memilih untuk tidak sampai terjangkit, mengingat penanganan dari pemerintah yang belum maksimal.

Seperti itu gambaran keadaan pembatasan sosial di negara tetangga, harap kita bisa menaati aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sendiri agar penyebaran infeksi virus Corona cepat berhenti.

Belum ada Komentar untuk "Seperti Ini Kondisi Lockdown Di Negara Tetangga Saat Corona Melanda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel