Musik Sang Lord Didi Kempot


Akhir-akhir ini, public figure yang menyita perhatian saya adalah Didi Kempot. Tidak banyak yang menyadari, adik pelawak Mamiek Prakoso ini cukup sensasional progress karirnya. Tentu saja sensasional dalam artian positif. Musik yang diusungnya juga konsisten sejak dulu, yaitu campursari dan keroncong. Lalu apa yang membuat pria kelahiran 53 tahun silam ini menjadi se fenomenal sekarang?

Didi Kempot lahir di tengah-tengah keluarga seniman. Darah seni mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya, Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto adalah seorang seniman ketoprak kenamaan di Solo pada zamannya. Lord Didi memiliki segala basic yang dibutuhkan untuk menjadi seniman terkenal. Tapi sekali lagi fakta membuktikan, bakat tidak pernah menjamin kesuksesan jikalau bakat hanya tinggal bakat. Tanpa ada usaha.

Kempot yang terletak dibelakang namanya, bukan hanya sekedar nama, tapi juga merekam banyak sejarah hidupnya. Kempot adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar, grup musik campursari yang bersama dengan Didi sejak dia mengamen di Keprabon, Surakarta.

Didi tahu, cita-citanya untuk menjadi seniman terkenal tidak akan bisa terwujud kalau dia hanya berdiam mengandalkan popularitas ayahnya saja. Mengamen di jalanan bersama rekan-rekannya sudah ia jalani dari umur 18 tahun, bahkan sekolahnya yang pada saat itu masih SMA pun ia tinggalkan.

2 tahun kemudian, Didi memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencoba peruntungan yang lebih baik. Masih dengan mengamen, Didi dan grup musiknya mulai memamerkan kebolehan bermusik di daerah Slipi, Jakarta Barat. Selama mengamen ternyata Didi sudah cukup banyak menciptakan lagu.

Rezeki pertamanya datang ketika berhasil masuk dapur rekaman Musica Studio pada saat usianya 23 tahun dengan lagu Cidro. Sayangnya, lagu-lagu Didi Kempot kurang populer di Indonesia. Namun dicintai di Suriname dan di Belanda. Bahkan konon katanya, Didi Kempot lebih dikenal oleh rakyat Suriname daripada presiden Suriname sendiri. Di usianya yang ke 27, Didi untuk pertama kalinya ke Suriname dan Belanda.

Indonesia mulai mengenal Didi lewat lagu-lagu yang dia ciptakan. Terus menerus dengan tekun Didi mencurahkan dirinya untuk menciptakan lagu demi lagu. Hingga saat ini total ada 700 lebih lagu. Inilah yang membuat Didi Kempot bisa bertahan ditengah kondisi pasar yang sebenarnya, kurang memihak padanya. Sebagai seorang seniman, beliau telah mempertahankan idealism diri dengan sebaik mungkin.

Alih-alih melacurkan diri dengan berusaha menyesuaikan diri dengan pasar, dia makin getol menciptakan lagu-lagu campursari yang menyayat hati. Konsistensinya membuahkan hasil. Selain konsistensi, lagu-lagu sedih yang beliau ciptakan ternyata sangat mewakili kondisi masyarakat pada umunya.

Setiap liriknya sangat relate dengan kehidupan percintaan sehari-hari. Sehingga merebut hati anak muda untuk menyanyikan lagunya bukan hal yang sulit lagi bagi Didi.

Soal menciptakan lagu, Didi mengaku bisa menciptakan lagu dimanapun dan kapanpun. Tergantung inspirasi yang datang pada dirinya.

Kita bisa hitung, kalau selama ini Didi Kempot sudah menciptakan 700 lebih lagu selama berkarir 30 tahun, berarti dalam 1 tahun Didi bisa menghasilkan sekitar 20an lagu. Dan artinya 1 bulan dia bisa menciptakan 1 atau 2 lagu. Betapa produktifnya Didi Kempot sebagai seorang seniman.

Bayangkan saja, siapa yang tidak berdecak kagum melihat konser campursari yang dulunya cuma orangtua umur 40 tahunan ke atas yang menikmati, sekarang diisi anak-anak muda kuliahan yang bersedia teriak-teriak menyanyikan lagu Didi. Seolah-olah mereka menghayati sekali kehancuran hati mereka didepan lantunan suara Didi.

Didi paham, bahwa mengekspos sesuatu yang biasanya orang simpan dalam-dalam itu, berpotensi dicintai pasar dan laku. Pada intinya banyak orang yang malu mengungkapkan kehancuran cintanya, kan? Bisa jadi karena takut dibully, takut aibnya ketahuan, dan takut-takut lainnya. Kesedihan karena patah hati banyak yang tak terkatakan dengan sempurna. Nah, Didi dengan sempurna dapat menceritakan nestapa kehancuran-kehancuran dalam setiap liriknya. Dari sanalah muncul sadboys dan sadgirls serta Lord Didi sebagai dewanya.

Selain tekun, dan memang memiliki kemampuan mumpuni, Didi juga memiliki sikap sabar. Saat Gofar Hilman mengundang Didi Kempot sebagai bintang tamu konten NGOBAM miliknya, Didi menceritakan betapa dia sering mengalami perlakuan yang kurang adil.

Khususnya pada royalti atas hak cipta yang seharusnya dia dapatkan. Seringkali lagunya dinyanyikan dan dicover oleh penyanyi lain tanpa izin. Kecewa tetap ada, tapi Didi tetap sabar dan tidak pernah mau mempermasalahkan hal tersebut karena dia meyakini rezeki sudah diatur Tuhan dengan baik.

Mungkin kalau Gofar Hilman tidak mengorek masalah itu saat NGOBAM, kita juga tidak akan tahu perasaan Didi Kempot terhadap orang-orang yang memakai karyanya dengan sembarangan. Didi memang orang yang apa adanya dan sederhana. Dia sama sekali tidak ingin memaksakan dirinya untuk mengikuti arus popularitas selebritis-selebritis ibukota yang glamor.

Didi hanya ingin memberikan karya kepada para pendengarnya tanpa harus bingung dengan gemerlapnya kehidupan selebritis. Beliau memang seniman sejati. Saking banyaknya lagu yang diciptakan, Didi kebingungan pilih lagu mana saja yang akan dijadikan playlist setiap kali manggung.

Fans nya sekarang bukan lagi para orangtua jawa yang kalau keluar rumah sarungan atau dasteran, tetapi anak-anak muda yang menobatkan dia sebagai The Godfather of the Broken Heart. Semoga ada yang bisa kita teladani dari seorang Didi Kempot.

Belum ada Komentar untuk "Musik Sang Lord Didi Kempot "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel