Membangun Business Plan Startup Yang Efisien




Membangun startup di zaman sekarang ini sudah menjadi semacam pop culture saja. Startup menjamur dimana-mana dan saling berkompetisi satu sama lain.

Sebelum membahas business plan startup, ada baiknya memahami terlebih dahulu perbedaan mendasar antara startup dan bisnis konvensional. Supaya perbedaan business plannya juga terlihat bedanya.

Startup adalah bisnis yang dirancang untuk bisa mengalami pertumbuhan keuntungan dengan cepat, melampaui bisnis konvensional, akibatnya tentu saja perencanaan yang dibuat akan berbeda.

Pendapat-pendapat yang akan saya rangkumkan untuk Anda dibawah adalah pendapat praktisi yang sudah berpengalaman terjun dalam bisnis startup

Beda Startup dan Bisnis Konvensional

Banyak sekali orang yang mempolarisasikan bisnis riil dan startup. Seolah-olah startup itu seperti judi, sebuah usaha yang tidak terprediksi, abstrak, dan sulit dipercaya. Sedangkan bisnis riil itulah sebenar-benarnya bisnis. Fisiknya ada, transaksinya jelas, dan semua bisa diprediksi. Benarkah seperti ini?

Andy Fajar Handika, founder dan CEO dari Kulina (platform online Indonesia yang menyediakan jasa online catering), pernah menjelaskan dengan sangat baik dalam salah satu artikelnya di Medium.

Beliau menggambarkan 2 jenis bisnis, dimana masing-masing mewakili apa yang dianggap khalayak umum sebagai startup, dan yang lainnya sebagai bisnis konvensional. Bisnis konvensional diwakili dengan bisnis membangun pusat perbelanjaan, sedangkan bisnis startup diwakili dengan membuat marketplace digital.

Keduanya  memiliki tahapan yang sama, yaitu, Ideation/Building Stage (membangun ide), Product Fit/Growth Hacking, Monetization (business model), dan Valuation. Hanya saja, masyarakat terbiasa dengan konsep bahwa modal untuk membangun bisnis harus dikeluarkan di awal. Padahal, pada startup, membangun sebuah bisnis bisa saja tanpa modal, alias modal dengkul dan otak. Baru pada saat funding, modal besar-besaran diturunkan.

Lho, untuk apa modal dikeluarkan? Padahal bisnis sudah berjalan dan mendapat untung. Nah, disini juga terdapat perbedaan. Pada bisnis startup, dikenal dengan istilah Scalability dan Repeatable. Artinya apa? Artinya pengembangan bisnis startup itu tidak bisa dibatasi oleh fisik. Potensinya hampir tidak terbatas.

Pada bisnis mall, jika parkiran dan tenant penuh, maka limitasi bisnis hanya sampai disitu. Bisa membangun mall baru kembali, nah, itu disebut sebagai repeatable. Sedangkan pada bisnis marketplace digital, potensi pengembangannya tidak bisa dibatasi dari tempat parkir dan tenant.

Penjual dan pembeli bisa datang dari mana saja, bahkan dari seluruh dunia. Inilah yang disebut scalability. Pada tahap ini, dana yang didapatkan dari seed funding dipakai untuk makin memperbesar jangkauan bisnis startup.

Menurut saya, business plan startup yang baik itu selain mampu berbicara bagaimana cara untuk profitable, bagian yang harus di ekspos secara jelas yaitu justru pada scalingnya. Yaitu tahapan ketika bisnis sudah profit, lalu mau dibawa kemana? Mau diperbesar sejauh apa?

Business plan startup yang efisien

Richard Harroch, Managing Director dari VantagePoint Capital Partners di San Francisco, dalam artikelnya di halaman Forbes, menyatakan bahwa business plan startup yang baik harus memuat tiga fungsi berikut, yaitu :
1.       Pernyataan visi yang jelas (vision articulation)
2.       Sebagai alat untuk presentasi kepada investor (pitch deck)
3.       Dokumentasi dan pemecahan masalah
Selain itu, Harroch juga menasihati pelaku bisnis yang ingin mendirikan startup, jangan sampai terjebak pada penyusunan business plan. Tahapan tersebut hanya membuang-buang waktu jika terlalu banyak perhatian yang tersita disana. Sebaiknya fokuskan saja isi dari business plan pada 3 poin diatas.
Seiring berjalannya waktu, business plan itu juga akan usang jika kita menemukan masalah yang sudah tidak relevan lagi dengan business plan awal.
Plus, tidak ada investor dan venture capital yang punya waktu banyak untuk mereview mendetail tentang business plan yang Anda buat.
Lalu bagaimana cara membangun business plan startup yang efisien?

Masih menurut Harroch, daripada membuang waktu untuk menyusun business plan mendetail dan panjang yang menurut Anda sempurna, lebih baik kerahkan pikiran dan tenaga untuk menyiapkan 5 hal berikut ini
1.     Pitch deck atau executive summary untuk meyakinkan investor. Sebuah pitch deck yang baik hanya berisi 15 dan maksimal 20 slides presentasi.
Membuat pitch deck sudah menjadi sebuah standar baru dalam memulai startup, daripada membuat business plan.
Salah satu pitch deck yang pernah dibahas techinasia.id yaitu pitch deck milik Sean Rad dengan aplikasinya, Tinder. Isi dari pitch decknya bahkan hanya 10 halaman. 
Di awal slide, dia langsung menyorot masalah yang dihadapi, yaitu dia merasa kurang nyaman melakukan PDKT kepada orang yang tidak menyukainya.
Kemudian, highlight dari contoh aplikasinya (prototype), bagaimana aplikasi itu bekerja untuk menjawab masalah (dengan like atau not like), dan monetisasinya seperti apa (dengan in-app purchase). Hingga sekarang, valuasi Tinder mencapai 6.6 triliun rupiah.
Pitch deck adalah kunci, jadi susun sesederhana mungkin namun memiliki poin yang kuat. Dan jangan lupakan tentang scale up. Pastikan Anda membahas scalability bisnis setelah profit.
2.      Membangun prototype dengan jelas, karena prototype inilah yang juga akan kita bawa ke dalam pitch deck. Buat versi 1 dari apapun aplikasi yang ingin Anda bangun. Memang jelas tidak akan mungkin sempurna. Tapi investor sudah memiliki bayangan terhadap product yang Anda bawakan. Seperti contoh Tinder tadi, isi pitch decknya ya sekalian juga tentang product mereka. Aplikasi Tinder pada versi awalnya bernama MatchBox.
3.      Pastikan Anda sudah riset menyeluruh tentang potensi pasar dan kompetitor yang sudah ada. Siapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seputar, seberapa besar pasarnya? Seberapa realistis Anda bisa mengakomodir potensi pasarnya?  Pesaing utama siapa saja? Apa penghalang utama untuk bisa memasuki pasar? Jangan pernah menyatakan kepada investor bahwa tidak ada kompetitor, bisa-bisa kredibilitas Anda akan diragukan.
4.  Siapkan proyeksi keuangan yang detail. Buat untuk 3 hingga 5 tahun ke depan, dengan memperhitungkan juga berapa uang yang perlu “dibakar” hingga nanti cashflow bisa mulai profitable. Profit Loss Statement, cashflow statement, detail expense dan income juga pastikan telah Anda siapkan.

5.    Kenali juga alasan-alasan umum mengapa investor tidak mau bekerja dengan Anda, supaya nantinya semua hal ini bisa diantisipasi, antara lain:

·         Tidak mengerti persaingan pasar
·         Tidak realistis dalam membuat proyeksi keuangan
·         Ide bisnisnya kecil
·       Tidak menjelaskan dengan baik bagaimana memasarkan dan mendapatkan pelanggan baru dengan efektif
·        Sudah ada kompetitor besar yang memiliki modal kuat
Dengan memperhatikan 5 kerangka ini, maka penyusunan business plan kita juga akan efisien dan lebih terfokus.

Belum ada Komentar untuk "Membangun Business Plan Startup Yang Efisien"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel