3 Solusi Efisien Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Bukan hiu, bukan macan, bukan cheetah, bukan buaya, bukan predator mengerikan manapun yang paling berbahaya di muka bumi. Keberadaan mereka selama berjuta-juta tahun terbukti tidak membawa dampak buruk bagi kelangsungan makhluk hidup. Manusialah makhluk paling berbahaya. Dengan segala kemampuan yang diberikan Tuhan padanya, kemampuan merusak adalah salah satunya. Masalahnya, kemampuan merusak ini tidak disadari kebanyakan orang, karena memang manusia sebenarnya tidak punya niat untuk merusak. Niat manusia itu baik, yaitu memperjuangkan nasib baik bagi kelangsungan jenisnya.

Iya, jenisnya saja.

Jenis makhluk hidup yang lain tidak.

Konsep ini ada karena pemahaman antroposentris. Dimana manusia adalah pusat alam semesta, dan segala hal disekeliling manusia hanya sebagai ruang baginya untuk berkreasi. Tapi, dalam etika lingkungan hidup, tentu saja pengertian seperti ini tidak bisa dibiarkan liar berkembang. Tetap harus ada tanggung jawab yang dikerjakan manusia. Alam hanya serangkaian sistem benda mati. Sistem memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Jika sistem terganggu? Maka seluruhnya terganggu, pun kita yang hidup di dalamnya.

Sampah plastik bisa kita jadikan contoh dari sekian masalah lingkungan yang dihasilkan manusia. Sudah tahu penelitian Jambeck et al. 2015 yang menunjukkan besarnya kontribusi Indonesia dalam hal mengisi lautan dengan sampah plastik?

Jambeck dan rekan-rekan melakukan penelitian terhadap 192 negara pesisir di seluruh dunia dan memperkirakan total sampah dari darat yang masuk ke lingkungan laut dan menjadi marine debris. 6.4 milyar manusia yang bertempat tinggal di area pesisir serta produksi sampah perkapitanya menjadi sumber data untuk melakukan estimasi berapa sampah plastik yang tak terkelola dengan baik? Dan secara mengejutkan Indonesia adalah negara terbesar ke 2 di dunia setelah China yang “mengirimkan” sampahnya ke laut. Bandingkan dengan seluruh Uni Eropa yang jika sampah tak terangkut (mismanaged waste) mereka semua digabungkan pun, “hanya” menempati urutan ke-18. Data ini sudah semestinya menjadi cambuk bagi kita semua untuk berbenah.



Marine debris akan terfragmentasi hingga derajat mikroplastik sehingga memungkinkan untuk termakan oleh invertebrata kecil. Ujungnya kemana? Ya ke manusia lagi juga sebenarnya. Ikan-ikan yang mengonsumsi fragmen-fragmen plastik sangat mungkin berakhir di atas piring kita dirumah. Lalu anak dan cucu kita di masa depan menikmati sumber daya laut yang sedemikian kotor, kesehatan manusia semakin memburuk,  dan menghasilkan bayi-bayi yang cacat karena plastik sudah mengontaminasi seluruh sumber daya laut. Biodiversitas terganggu, dan efek terparahnya bisa berujung pada kepunahan.

Terus? Urgensinya dimana? Kita juga masih baik-baik saja, bisa menikmati kehidupan dengan aman, sentosa, dan sejahtera. Belum. Semuanya hanya soal waktu. Perubahan lingkungan ke arah yang lebih buruk sebenarnya sedang terjadi perlahan, namun pasti jika kita tidak merubah kebiasaan kita. 
Silahkan cari tahu riset-riset tentang dampak yang lebih mendalam terkait sampah plastik terhadap lingkungan. Jangan sampai kita terlambat menyadari pentingnya masalah sampah plastik ini.

Greta Thunberg juga melihat ini, yaitu tidak bertemunya keseriusan pemerintah dengan penanganan kerusakan lingkungan. Dia sangat jelas sekali mewakili kegelisahan millenials akan lambatnya aksi yang dijalankan pemerintah.

Indonesia, sebenarnya sudah ada progress untuk mengurangi pemakaian plastik. Mulai dari melarang tas belanja plastik di semua pusat perbelanjaan mulai dari 2016 yang lalu. Kebijakan ini terasa seperti angin segar ditengah-tengah keputusasaan membludaknya sampah plastik.

Sebagai contoh saja, kota Banjarmasin yang sudah mengimplementasikan peraturan ini selama 2 tahun, berhasil mengurangi produksi sampah plastiknya sebanyak 3% setahun, atau sejumlah 9 juta lembar kantong plastik.

Tapi sayang, kebijakan ini tidak berlaku bagi pedagang-pedagang kelontong, gorengan, pasar, dan PKL lainnya yang masih intens menggunakan kantong plastik. Belum lagi botol-botol plastik yang masih mendominasi di tong sampah, karena memang belum diregulasikan dengan jelas kepada produsen-produsen minuman dalam kemasan. Praktis hanya mengandalkan fasilitas-fasilitas daur ulang yang masih sedikit jumlahnya.

Melalui artikel ini saya ingin berbagi apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah dan diri kita masing-masing sebagai masyarakat, dalam hal pengelolaan sampah plastik.

Pemerintah

Mengatur Regulasi dan Memperbanyak Fasilitas Daur Ulang Limbah Plastik

Tidak ada negara di dunia ini yang berhasil 100% mendaur ulang sampah plastiknya. Pengelolaan daur ulang sampah plastik di Amerika saja masih kurang maksimal. Masih ada porsi sampah plastik yang tak terkelola dengan baik sehingga banyak sampah plastik yang di ekspor ke Indonesia. Perusahaan minuman kemasan juga masih menerapkan kebijakan yang berbeda-beda, tergantung daerahnya. Coca Cola Australia misalnya, untuk siapapun yang mengembalikan botol plastik kemasan Coca Cola, pihak Coca Cola akan membayar 10 sen.

Pertanggungjawaban lingkungan yang sangat baik, bukan? Mengapa hal yang sama juga tidak bisa dilakukan oleh Coca Cola Amatil Indonesia? Coca Cola yang tergabung dalam Alliance to End Plastic Waste, berjanji akan mengurangi kemasan plastik dan mengklaim jumlah sampah plastik akan berkurang drastis pada 2030.

Perlu campur tangan pemerintah dalam hal ini untuk sedikit “memaksa” mereka meniru Coca Cola Australia, yang berhasil menerapkan peraturan untuk menggerakkan masyarakat ikut terlibat dalam mengatasi masalah sampah plastik ini. Sebenarnya, Indonesia sudah menargetkan 2025 akan tercapai pengelolaan sampah hingga 70%. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan pemerintah akan terus mendorong seluruh pengelolaan terhadap sampah plastik melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah, dan terus update pada teknologi daur ulang

Tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia itu hanya sebesar 10% dari total sampah yang dihasilkan. 90% nya kemana? Tidak terkelola dengan baik. Justru malah ada pihak luar yang tergerak untuk terlibat dalam ekosistem daur ulang plastik di Indonesia.

Veolia Services contohnya, perusahaan ini merupakan perusahaan daur ulang botol PET terbesar di Indonesia. Tapi sayangnya perusahaan ini bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Perancis. Dibangun sejak 2019 yang lalu di Pasuruan, Veolia Services diharapkan bisa mulai beroperasi di 2020. Perusahaan global ini akan menggandeng seluruh pihak pengumpul sampah plastik, mulai dari pemerintah hingga pemulung untuk menjalankan ekosistem daur ulangnya.  Danone Indonesia langsung menyatakan ketertarikaannya untuk bekerja sama dan menggunakan botol produk Veolia Services ini.

Setelah track record yang cukup baik dengan pembatasan kantong plastik, pemerintah harus memulai dengan regulasi yang lebih tinggi lagi. Yaitu memperketat aturan tentang penggunaan botol plastik sekali pakai kepada produsen minuman dalam kemasan. Jika ada campur tangan ketegasan dari pemerintah, saya  yakin tidak lama lagi sampah-sampah plastik akan habis dan tidak mencemari lautan lagi. Kita bisa lihat saja dari kepatuhan yang tinggi pada pelaku-pelaku usaha retail terkait pembatasan kantong plastik. Hal yang sama juga akan terjadi jika ada ketegasan regulasi tentang botol plastik

Masyarakat

Memilah Sampah dan Tidak Membuang Sampah Sembarangan

Masalah berat ini tidak boleh kita bebankan kepada pemerintah sepenuhnya. Kita bisa memilah sampah sejak dari rumah. Bahkan di negara maju seperti Korea Selatan, orang yang tidak membuang sampah sesuai jenisnya akan menjalani pemindahan paksa dari tempat tinggalnya oleh pemerintah. Sampah mereka wajib dibuang dalam kemasan resmi dari pemerintah yang jika tidak dipatuhi, juga mengharuskan mereka membayar denda sebesar 1 juta Won, atau sekitar 11 juta Rupiah. Menarik, bukan? Pemerintah Korea Selatan berhasil mengubah cara pandang masyarakat tentang sampah dalam kurun waktu 1 dekade terakhir.

Jerman juga dikenal cukup serius dalam menangani sampah. Terdapat 7 kode warna tempat sampah yang membedakan masing-masing jenis sampah. Warna biru untuk sampah kertas dan kardus, warna hijau dan putih untuk sampah gelas, warna kuning atau jingga untuk sampah plastik/metal, warna coklat untuk benda-benda yang mudah membusuk, dan warna hitam untuk sampah yang tidak bisa di daur ulang seperti popok, baterai.

Lagi-lagi penegakan hukum yang ketat berbicara disini. Manusia sebelum sadar, memang perlu “dikasari” supaya mampu melihat mana yang benar. Alangkah baiknya sebelum pemerintah Indonesia melakukan hal yang sama, kita sudah memulai dari sekarang. Sebisa mungkin kita pilah sampah sebelum kita buang ke tempat sampah besar yang ada di dekat tempat tinggal kita. Pemilahan sampah bisa kita dasarkan pada jenisnya secara sederhana, yaitu sampah plastik, sampah sisa makanan, dan sampah B3 (baterai, aki, tinta, komponen elektronik).

Untuk sampah sisa makanan, kita bisa belajar untuk mengelolanya sendiri menjadi kompos. Pupuk kompos ini berguna untuk menyuburkan tanaman-tanaman di sekitar rumah kita. Cara untuk mengkompos bisa Anda cek di google.

Kebiasaan lama yang memalukan juga harus sudah mulai kita hilangkan, yaitu membuang sampah sembarangan. Percuma saja jika sampah-sampah plastik di daur ulang dengan rasio yang lebih baik, regulasi kemasan plastik jelas, tapi sampahnya dibuang sembarangan ke sungai.

Melibatkan diri dalam proses daur ulang

Infografis dibawah menunjukkan data produksi sampah Kalimantan Timur selama periode 2015-2018. Jumlahnya jelas terus bertambah karena populasi yang terus juga bertumbuh. Sedangkan jumlah sampah plastik yang ada di Samarinda yaitu sekitar 55 ribu ton per tahun atau sekitar 150 ton per hari.



Untuk sampah plastik, mulai bisa kita pisahkan untuk disetor ke Bank Ramli? Apa itu Bank Ramli? Saya juga baru tahu setelah minggu kemarin tidak sengaja melihat pertanyaan orang lain di akun Instagram Dinas Lingkungan Hidup Samarinda. Orang itu menanyakan, apakah sampah plastik bisa diantarkan ke DLH Samarinda untuk di daur ulang? Baru setelah itu ada postingan yang menjelaskan tentang Bank Ramah Lingkungan beserta dengan alamatnya di seluruh Samarinda.  Bank Ramah Lingkungan ini adalah tempat dimana masyarakat bisa menyetor sampah plastik, kertas, dan aki bekas. Informasi ini jelas sangat membantu kita. Namun sayangnya, kemana sosialisasinya selama ini? Mungkin ada, namun terasa belum agresif di tengah-tengah masyarakat.






Ada juga Precious Plastic, sejenis komunitas pegiat daur ulang yang berusaha mengajak sebanyak mungkin orang untuk terlibat dalam kegiatan bisnis daur ulang. Mereka menyediakan petunjuk mulai dari dasar pengetahuan tentang plastik, dasar mesin pengolahan daur ulangnya, hingga business process jika kita ingin menjalankan pengolahan plastik. Precious Plastic ini banyak menginspirasi pekerja-pekerja kreatif lokal yang ingin menampilkan karya nya dalam bentuk plastik daur ulang dan memiliki nilai tambah.


Source :
Jambeck, jenna. 2015. Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean. Science Magazine Journal. Accessed 31 Jan 2020
Food vector created by brgfx - www.freepik.com
Background vector created by vectorpocket - www.freepik.com 
Water vector created by macrovector - www.freepik.com

Belum ada Komentar untuk "3 Solusi Efisien Untuk Mengurangi Sampah Plastik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel