Mengapa Anda Sulit Promosi?

Photo by Clark Tibbs on Unsplash

Misal Anda menghadapi skenario ini : sedang menikmati semangkok bakso di di restoran favorit Anda dengan sambal yang melimpah. Sontak saja cuaca yang panas, kuah yang mengepul, dan sambal yang tak kenal ampun membuat keringat Anda mengucur dengan derasnya. Tisu yang dicari untuk mengelap keringat ternyata habis di wadahnya dan di wadah meja sebelahnya. Untung saja ada pelayan yang kebetulan lewat dengan buru-buru karena hendak mengantar pesanan ke meja-meja

“Mbak, minta tolong tisunya ya, habis ini”

Pelayan hanya menoleh sebentar, bertanya “Gimana, Pak?”

“Tisu, Mbak, habis”

Pelayan yang merasa sudah mengerti dan jelas mendengar langsung berpaling melanjutkan jalannya tanpa berkata sepatah kata pun, dan melanjutkan pekerjaannya mengantar makanan ke meja-meja. Rupanya dia lupa. Sementara baju sudah mulai basah karena keringat. Keringat yang disebabkan bukan hanya pedas makanan, panas makanan, tapi ditambah juga kesal yang membuncah di ubun-ubun karena service yang tidak baik.

Saya rasa kita semua pasti pernah mengalami hal seperti ini, bahkan bukan hanya di restoran saja, tapi juga di pusat perbelanjaan, toko buku, department store dan tempat-tempat lainnya yang ujung tombaknya adalah service.

Waktu saya diperhadapkan dengan situasi seperti ini, saya langsung berpikir, mungkin ini yang disebut cocok, maksudnya cocok, sikapnya match atau cocok dengan takdir yang dia terima saat ini sebagai pelayan. Atau dengan kata lain, pantas jika masih dipercayakan sebagai pelayan, karena sikapnya pun masih perlu pengembangan untuk bisa mendapatkan hal yang lebih.

Nah, ilustrasi ini juga langsung saya cerminkan juga pada diri saya sendiri. Mengapa saya sejauh ini hanya mendapatkan posisi yang sekarang ini, sedangkan rekan-rekan saya sudah melaju melampaui saya? Mengapa saya sulit untuk promosi? Atau mengapa saya sulit memperbaiki kondisi finansial saya?

Melihat ke dalam diri

Menurut kamus Merriem-Webster, Upward Mobility berarti perpindahan status ekonomi atau sosial dari bawah ke atas.  Professor Nadarajan Chetty dari Harvard University, dalam satu penelitiannya pada jurnal Science yang dipublikasikan oleh AAAS (American Association for the Advancement of Science), menunjukkan kemunduran pencapaian pendapatan yang dicapai oleh sekelompok orang kelahiran tahun 40an, dengan kelompok lainnya yang lahir pada tahun 80an. Sebesar 92% anak-anak yang lahir di tahun 40an mampu meraih net worth lebih besar dibanding orang tua mereka. Sedangkan pada kelompok orang yang lahir pada tahun 80an, hanya 50% dari mereka yang mampu untuk meraih kekayaan lebih besar dari orangtuanya.

Dari data ini, sebenarnya bisa kita simpulkan bahwa semakin modern, pencapaian manusia secara ekonomi semakin menurun. Tentu saja ada banyak variabel lainnya yang mempengaruhi. Tapi berangkat dari fakta ini, paling tidak kita harus sudah bisa menyadari, bahwa di negara yang cukup maju pun ternyata perbaikan finansial itu tidak semudah yang dibayangkan.

Jika berbicara tentang karir kita, coba ajukan pertanyaan sederhana, mengapa saya sulit mendapat promosi hingga saat ini? Dari hasil kontemplasi kita, hasilnya ternyata kita masih suka menunda pekerjaan, masih sulit mengendalikan emosi, masih tidak punya sikap visioner dalam memberikan kontribusi bagi perusahaan. Nah, kalau sudah begitu, bukannya wajar saja kalau kita masih menempati posisi kita saat ini? Kita belum menerima sesuatu yang lebih tinggi karena memang belum pantas untuk itu, dan jika kita tidak berusaha memantaskan diri, maka bersiaplah untuk dengan lapang dada mensyukuri keadaan kita sekarang.

Beranjak dari satu titik yang biasa kita lakukan, ke titik lain yang tidak biasa kita lakukan, itu butuh perjuangan yang luar biasa. Are we created for what we are now? Pertanyaan itulah yang sebaiknya berulang-ulang kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Sama dengan pelayan tadi. Dengan sikapnya yang demikian, sebenarnya dia sedang menunjukkan kapasitasnya yang memang seperti itu.

Merasa nyaman

Terdengar klise dan sering diucapkan, tapi jangan salah, merasa nyaman lah penyebab orang untuk malas melakukan apapun yang memerlukan konsistensi tinggi. Jangankan untuk mau konsisten memperbaiki diri, melihat ke dalam diri saja malas. Pengennya promosi jabatan, tapi di sisi yang sama juga mager untuk memulai perubahan.

Efek bola salju juga bisa kita gambarkan pada orang-orang yang demikian. Semakin malas, semakin tidak ada pencapaian apapun dalam hidup, maka semakin tidak percaya dirilah ia, dan semakin terpuruk dalam kenyamanan itu. Efek yang sama juga berlaku pada orang yang memiliki pergerakan positif dalam hidupnya. Pencapaian yang baru dicapai membuat semakin haus untuk menggapai prestasi yang lain, demikian seterusnya, dan seterusnya hingga ia berada di puncak keberhasilan.

Membangun kekuatan niat itu sangat penting. Setelah membangun niat, menjaga niat juga bukan perkara enteng. Seringkali motivasi yang sudah kita bangun kuat, dilunturkan oleh tidak konsistennya kita dalam mengerjakan perubahan. Latihlah diri kita untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.  Bangun kebiasaan yang bisa menjaga kita untuk tetap memiliki kekuatan niat itu. Contoh, bangun pagi dan bermeditasi kepada Sang Pencipta, rajin membiasakan diri berolahraga, dan menjauhkan diri dari lingkungan dan pergaulan yang tidak sehat.

Promosi yang dibahas dalam artikel ini sebenarnya tidak terbatas pada promosi di lingkup pekerjaan saja. Tapi segala progress positif yang mungkin kita terima dalam hidup, bisa itu membangun keluarga yang lebih sehat, mempengaruhi lingkungan kerja kantor untuk tidak toxic, dan bisa juga komitmen untuk mempelajari skill baru dalam waktu yang akan datang. Atau malah bisa juga memiliki kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi situasi sulit. Apapun itu, semoga kita selalu bersikap terbuka akan hal baru, dan senantiasa memelihara niat untuk menjadi lebih baik.

Belum ada Komentar untuk "Mengapa Anda Sulit Promosi?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel