Kontroversi Cuitan Coki Pardede, Bagaimana Seharusnya Komedi Bekerja?


Coki Pardede, stand up comedian yang tergabung dalam Majelis Lucu Indonesia (MLI) baru-baru ini ramai menjadi bahan perbincangan netizen di Twitter. Gara-gara cuitan terbarunya yang isinya : “Apakah di Tiongkok pas Angpao dibuka isinya Virus Corona?”. Tak perlu menunggu waktu lama, Coki langsung dibully warganet. Bahkan sesama stand up comedian seperti Ernest Prakasa juga memberi sindiran keras kepadanya.

Pria bernama lengkap Coki Reza Pardede ini memang sering dikenal membuat kontroversi melalui ulahnya. Saya baru mengetahui di Indonesia ada dia setelah kasus memasak daging babi dengan saus kurma bersama Tretan Muslim viral, dan kabarnya mereka sampai mendapat intimidasi dari beberapa pihak garis keras yang tidak suka dengan konten video mereka di Youtube.

Dari peristiwa itu juga saya baru tahu, kalau ada semacam comedy club namanya Majelis Lucu Indonesia. Oh, ternyata mereka dulu adalah peserta kompetisi Stand Up di salah satu channel TV swasta.  Dari situ juga saya mulai nonton konten-konten mereka dan memperhatikan materi yang dibawakan.

Hal positif yang langsung saya tangkap adalah Coki Pardede dan Tretan Muslim memiliki kegelisahan terhadap rendahnya toleransi umat beragama di Indonesia. Keresahan ini mereka tuangkan dalam cara mereka berkomedi. Jelas mereka menempuh cara yang tidak gampang, mengingat perihal SARA sangat sensitif di tengah-tengah masyarakat kita. Slogan yang mereka gaungkan yaitu : “Humanity above Religion”.  

Boleh dibilang Coki dan Muslim juga cerdas dalam menyampaikan bit-bitnya. Ini saya simpulkan setelah melihat rekaman performance mereka di Youtube. Melihat mereka berdua, saya langsung sangat setuju dengan nilai yang mereka bawakan. Bahwa memang ada kesalahan dalam beragama yang hari ini kita lakukan.

Photo by Frederick Tubiermont on Unsplash

By the way, menurut saya, yang menyebabkan toleransi beragama kita menjadi rendah, adalah radikalisme kosong yang terus dipegang umat beragama di Indonesia. Radikalisme itu harus ada dalam setiap ideologi atau kepercayaan. Orang yang radikal, artinya dia meyakini apa yang dia yakini adalah benar, dan diluar itu adalah salah. Itu boleh, dan menurut saya malah harus ada, karena itu menunjukkan kesungguhan dalam kita memegang satu kepercayaan. Menjadi radikal adalah sebuah akibat dari kesungguhan kita. Ini benar. Nah, yang menjadi MASALAH itu, ketika mengatakan “saya benar, maaf yang lain salah”, kita sambil membenci orang lain yang salah, sambil menyerukan untuk boleh menyakiti, sambil menghalalkan cara untuk membunuh orang lain, berusaha memaksa mereka untuk ikut kita, dan semua tindakan lain yang mengganggu orang yang tidak sejalan dengan kita, itu baru namanya radikal salah. Teroris.

Kembali ke Coki dan Muslim, ada beberapa titik dimana saya fine saja dan tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan sih. Contoh misal pada saat konten mereka membuat daging babi saus kurma itu, jujur saya nggak paham dengan apa yang dipermasalahkan orang-orang yang sampai segitunya memburu mereka. Sampai-sampai mereka mundur dari Youtube. Itu kan benda mati, yang mereka pakai untuk menyimbolkan kepercayaan A dan kepercayaan B. Lalu mereka melucu sana sini saat memasaknya. Lalu mereka dicap sebagai penista agama. Disitu yang agak kurang nyambung menurut saya. Sebegitu mudah tersinggungnya ya sampai-sampai merasa kalau ajarannya dihina, dipermalukan? Nah di titik ini saya merasa lawakan mereka oke saja, hanya orang-orang menanggapi berlebihan.

Lalu ada juga cuitan Coki yang menuai kontroversi sebelum ini, yaitu soal banjir DKI. Disitu Coki menulis cuitan yang isinya kurang lebih “mending maksiat saja, daripada tidak maksiat, toh juga semuanya kena azab perayaan tahun baru, berupa banjir juga”. Nah, di cuitan ini juga agak berbahaya. Sebenarnya poin yang dimaksud Coki itu bagus. Yaitu jangan mudah terburu-buru memvonis segala sesuatu bencana sebagai azab dari Tuhan karena kita manusia melakukan yang jahat. Tapi dia melakukannya pada saat banjir itu baru terjadi, jadi timingnya kurang pas. Pada saat itu netizen Twitter dan beberapa stand up comedian juga sudah mulai bereaksi keras.


BACA JUGAFilm Imperfect : Keberanian Dalam Menerima Diri

Bagaimana Seharusnya Komedi Bekerja?

Nah, di cuitan terakhirnya ini, timing dari jokesnya juga dinilai tidak tepat dari berbagai pihak. Saya juga kurang setuju, karena sama sekali tidak menunjukkan empati terhadap para korban dan tenaga medis yang sedang berjibaku di China melawan penyebaran virus ini. Di titik ini juga saya berpikir, mungkin Coki ini memang pintar, tapi tidak memiliki attitude yang baik. Dan ternyata, penyampaian komedi itu ada ilmunya juga.


Sampai-sampai stand up comedian Sakdiyah Maruf, membuat sebuah thread di Twitter yang menjelaskan bagaimana komedi seharusnya. Dia menjelaskan sedikit tentang sejarah komedi, relevansinya dengan dark jokes dan poin-poin apa yang harus diperhatikan ketika kita berkomedi. Sakdiyah menyatakan bahwa komedi harus didasarkan pada pengetahuan terhadap materi yang kita sampaikan agar itu tidak menjadi olok-olok belaka. Selain itu, minimnya penguasaan materi secara mendalam akan membuat kita jatuh dalam materi yang hanya mengekspos kekesalan kita sendiri saja. Empati juga menjadi poin penting karena itulah yang menjadikan kita manusia. 

Dark jokes yang selama ini dikenal melekat pada diri Coki juga dibahas. Dia mengatakan kalau dark jokes itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Performers juga harus memposisikan diri sebagai orang yang menderita atau korban dari jokes yang akan disampaikan. Karena mereka yang memang seharusnya memiliki hak atas narasi tersebut mau disampaikan seperti apa, dan paling mengerti atas apa yang mereka alami. Dark jokes juga seharusnya berasal dari puncak kepahitan-kepahitan yang korban alami. Bukan orang lain. Tak kalah pentingnya juga, yaitu niat kita ketika menyampaikan komedi. Apakah didasari untuk menghibur orang lain? Ataukah hanya untuk menuangkan kontroversi demi kontroversi?

Bukan hanya Sakdiyah, Ernest juga mengeluarkan pendapatnya tentang cuitan Coki. Menurutnya, dark joke itu saja masih bisa dinikmati kok, karena ada sisi lucunya. Tapi jika tidak ada lucunya (jokes), maka itu tak lain hanya mencari sensasi saja.

Belum ada Komentar untuk "Kontroversi Cuitan Coki Pardede, Bagaimana Seharusnya Komedi Bekerja?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel