Film Imperfect : Keberanian Dalam Menerima Diri




Film berjudul Imperfect sebenarnya merupakan adaptasi dari buku novel yang ide ceritanya ditulis Meira Anastasia, istri Ernest Prakasa. Disini saya akan membahas tentang apa yang ditampilkan dalam film ya, karena saya juga belum pernah membaca versi novelnya. Malahan saya baru tahu ternyata film ini diambil dari novel setelah googling. Biasanya kalau film yang saya tonton itu saya nilai sebagai film yang bagus, saya masih merasa kurang puas setelah film itu berakhir dan berusaha googling tentang film itu setelah menontonnya.

Ernest dan Meira saya rasa sama-sama memiliki kemampuan yang cerdas dalam menulis cerita. Namun Meira lebih membuktikannya lewat film Imperfect ini karena ide cerita murni diambil dari novelnya.  Setelah Cek Toko Sebelah, yang juga mereka tulis sendiri ceritanya, Imperfect ini merupakan film terbaik dari seluruh film yang pernah mereka buat. Menulis cerita yang baik itu, artinya juga mengekspos nilai-nilai yang kita yakini benar untuk dikonsumsi khalayak umum. Karena nilai-nilai dari sang penulislah yang bisa membuat cerita menjadi kuat dan memiliki makna. Film Imperfect ini sarat dengan muatan nilai-nilai yang bisa menyegarkan kembali sudut pandang penonton tentang apa itu ideal. Insecurities, keputusasaan dan humor sehari-hari diaduk dengan sangat baik menjadi satu oleh Ernest dan Meira.

Khas Ernest, setiap alur cerita dalam film dibuat sangat alami dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari sehingga saya bukan seperti sedang nonton film, tapi memang seperti itulah adanya yang kita alami sehari-hari sebagai manusia. Konsekuensi logis dari setiap adegan dengan adegan lain juga kuat sehingga memiliki kesinambungan yang baik. Watchout spoiler alert!

Rara (Jessica Mila), yang sejak kecil digambarkan sebagai perempuan yang gemar makan, cuek dan tidak suka berdandan tumbuh menjadi wanita karir yang cukup diakui kinerjanya di kantor. Tubuhnya yang gemuk dan penampilannya yang kurang menarik sering dijadikan bahan cibiran.

Kehidupannya berjalan baik saja dan dia sangat menikmati hidup yang dia jalani. Apalagi Rara memiliki seorang pacar rupawan bernama Dika (Reza Rahadian) yang sangat menyayanginya dan sama sekali tidak menghiraukan perihal fisik Rara.

Semua konflik baru naik ke permukaan ketika ada kekosongan posisi manager di kantornya. Rara dengan segala kemampuannya sangat diinginkan atasannya untuk mengisi posisi itu. Sayang sekali, Rara lupa bahwa dia bekerja di industri kecantikan, yang sebenarnya, tampil cantik itu adalah sebuah keharusan. Atasannya ingin satu hal yang menurut saya sangat wajar, yaitu keseimbangan antara skill  dan penampilan fisik. Rara pun mulai merasakan kalau penampilannya membawa kerugian bagi dirinya. Momen ini juga perlu kita highlight, yaitu saat-saat dimana Rara menyadari bahwa ketidakpeduliannya dengan penampilan mulai menghambat karirnya.

Sebenarnya, dari awal saya sudah mendukung mama Rara (Karina Suwandi) yang terus tekun mengingatkan untuk jaga badan dan jaga makan. Rara saja yang salah memahami nasihat mamanya dengan berpikir bahwa mamanya pilih kasih. Padahal, poinnya adalah untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri. Sang mama juga tidak mengarahkan dia untuk harus ekstrim macam diet ketat dengan mengonsumsi sayur dan buah, tidak. Rara terbiasa dibela papanya sejak kecil. Papa dan Mamanya menunjukkan sikap berlawanan tentang kebiasaan makannya hingga papanya meninggal dunia. Disini juga ada nilai yang bisa kita ambil, bahwa suami istri sebaiknya satu pendapat ketika memberikan didikan pada anak. Ini penting agar hati sang anak tidak mengalami polarisasi dan berpikir bahwa 1 pihak mendukung lalu pihak lainnya tidak mendukung.

Rara akhirnya terus tumbuh dengan mengabaikan sama sekali nasihat mamanya untuk perhatikan pola makan. Ditambah suasana melankolis dalam hatinya dimana sang papa yang dulu ada untuk membela dia sekarang sudah tidak ada lagi. Ditambah lagi teman-teman mama Rara yang sosialita itu selalu memberikan komentar yang tidak mengenakkan padanya. Ditambah keberadaan Lulu, adik Rara yang makin membuat kontras keadaan fisik mereka, makinlah Rara tebal muka dan tebal telinga akan sekitarnya.

Rara sepertinya menghidupi sisi pendulum yang lain, yaitu bahwa kemampuan dan otak adalah yang terpenting. Penampilan tidak penting. Mungkin jika dia tidak bekerja dalam industri yang tidak mementingkan penampilan dan fisik, Rara selamat. Pemikiran dikotomis seperti ini membawanya ke titik masalah yang sama sekali tidak pernah dia prediksi sebelumnya.

Akhirnya yang menguatkan Rara untuk berjuang keras mendapatkan tubuh ideal juga mama dan Lulu. Mama Rara menjelaskan kalau selama ini dia menasihatkan seperti itu juga demi kebaikan Rara sebagai wanita. Rara pun berusaha keras untuk mendapatkan the so called body goals. Singkat cerita, Rara berhasil berubah menjadi seorang yang sangat cantik, memiliki body goals dan sangat memperhatikan penampilan. 

Tanpa disadari, nilai-nilai hidupnya saat ini bergeser, dari yang mengutamakan substansi jadi mengutamakan bungkus. Fokusnya benar-benar dicurahkan untuk menjaga penampilannya on point dan bahkan mulai menilai sesuatu dari luar. Performanya dalam bekerja juga menurun. Korban sakit hati yang paling parah juga adalah sahabatnya dan pacarnya. Rara benar-benar kehilangan bijaksana bahwa yang seharusnya dia raih itu adalah keseimbangan menjaga hidup sehat dan penampilan dengan tetap menjaga jati dirinya sebagai Rara.

Puncaknya, Rara kembali masuk ke dalam keputusasaan setelah adik, sahabat, pacar dan atasannya menganggap Rara berubah. Dia merasa sudah bekerja keras melakukan yang terbaik namun tidak ada sama sekali yang memberikan apresiasi, justru sebaliknya, orang-orang disekitarnya menyudutkan Rara.

Penyelesaian yang ditawarkan Ernest dan Meira juga cukup bermakna menurut saya. Keluarga menjadi prioritas resolusi yang pertama. Keterbukaan komunikasi dalam sebuah keluarga itu harus ada sebagai ciri-ciri keluarga yang harmonis. Kalau dalam keluarga saja seseorang tidak merasa didengar dan diterima, maka jelas dia akan mencarinya di tempat lain. Semuanya tergambar dengan baik di dalam Imperfect. Pun dengan keluarga Dika, relasi ibu Dika dan Dika tergambar sangat heartwarming dan patut dijadikan contoh.

Sepanjang film, penonton juga  sambil disuguhkan kisah 4 perempuan penghuni kos ibu Dika yang banyak memberikan pesan moral. Mereka terlahir berbeda dan mewakili beberapa suku di Indonesia tetapi  mampu hidup berdampingan. Jelas Ernest ingin menyentil tentang keberagaman serta cara hidup yang bijak dalam menyikapinya. 4 perempuan tersebut juga memiliki kelemahan fisik masing-masing yang berusaha mereka tutupi selama ini. Pada akhirnya, mereka mampu punya keberanian untuk bangga dengan dirinya masing-masing lewat ide yang dibangun Rara.

Masing-masing pemeran utama sangat kuat dalam memainkan karakternya, sehingga mudah untuk menebak respon-respon yang akan diberikan oleh para pemeran ketika mendapat stimulus percakapan dengan lawan bicaranya. Reza Rahadian, apa pernah dia memainkan peran dengan jelek?

Penerimaan diri akan menjadi sangat mudah kalau kita sudah memiliki apa yang disebut baik di dalam masyarakat. Namun cerita akan berlawanan jika kita tidak memiliki standar yang masyarakat tetapkan. Maka, cara terbaik adalah dengan bersyukur atas pemberian Tuhan dan belajar menerima semua kekurangan diri, karena pendapat orang lain jelas tidak bisa kita kontrol. Kontrol penuh kita hanya atas diri kita sendiri. Selalu menghidupi perkataan orang lain akan selalu menyakitkan karena mereka juga selalu menemukan kejelekan kita sebaik apapun kita. Tapi ingat, tidak semua perkataan orang lain negatif, perlu juga belajar untuk berbesar hati menerima nasihat demi kebaikan diri.

Salut dengan Ernest dan Meira yang berhasil menuangkan kegelisahan bahkan keputusasaan orang-orang yang masih insecure dengan dirinya sendiri. Semoga film ini memberikan dampak positif dalam perubahan perilaku sosial masyarakat Indonesia. Keep up the good work!

Belum ada Komentar untuk "Film Imperfect : Keberanian Dalam Menerima Diri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel