Cara Menghadapi Boss Yang Bossy


Photo by Brooke Lark on Unsplash

                       “Eh kamu bisa tolong ambilkan laundry saya gak ya? Itu kan kamu lewati tuh kalau pulang kerja, titip antarkan kerumah ya!“

                       “Gak gitu caranya lah, udah coba kamu koordinasi dengan marketing ya! Siang ini saya tunggu di ruangan saya”

                       “Mestinya kamu lihat lah, kalau kita eksekusi plan yang seperti itu hasilnya baik atau buruk. Kan bisa tanya saya, saya sudah 10 tahun pegang bagian itu. Kamu gak anggap saya ya?

                 Bagi kita yang bekerja sebagai karyawan, kita tentu sudah sangat paham dengan ungkapan  “Atasan kerja itu seperti orangtua, tidak bisa kita pilih, kecuali kita atasan, baru bisa pilih bawahan”. Mau tidak mau kita menerima mereka apa adanya sambil terus membangun sikap jiwa besar dalam hati kita. Kalau memiliki atasan yang baik, syukur tak terhingga kita ucapkan. Tapi jika atasan kita sering membuat kita makan hati, maka sumpah serapah yang menjadi teman sejati kita sehari-hari. Sayangnya, yang lebih sering kita dapatkan adalah atasan yang selalu ada kurangnya. Ya jelaslah, namanya manusia pasti ada kurangnya.

             Dari semua kekurangan boss Anda yang pernah Anda rasakan, pasti pernah paling tidak sekali dalam karir  menghadapi boss yang mengekspresikan contoh ungkapan seperti diatas. Kalau mau bicara wajar, ya wajar sih karena memang boss. 

         Tapi perlakuan bossy itu yang seperti apa? Bossy itu adalah ketika boss Anda terlalu mengekspos keberadaannya sebagai atasan Anda melalui perbuatan maupun lisan yang diberikan. Tipikal orang bossy itu selalu ingin memberikan instruksi pada orang lain. Tidak semua bawahan merasa tidak nyaman dengan perilaku boss yang bossy, apalagi bagi pegawai yang sudah tahu harus melakukan apa, biasanya paling tidak suka diperlakukan seperti ini. Ada juga yang nyaman, karena dianggap sebagai peluang untuk punya relasi lebih dekat dengan boss dan sarana untuk cari muka. Daripada Anda biarkan dan perangai boss Anda semakin menjadi, lebih baik mulai terapkan beberapa tips ini untuk menghadapi boss yang bossy

Memberanikan untuk kritis

                  Nurut boss itu penting, tapi menjaga kesehatan kita itu lebih penting lagi. Biasakan untuk tidak selalu mengatakan “ya” dengan permintaan boss yang aneh-aneh atau bahkan diluar pekerjaan. Pasti awalnya kita sulit untuk berani jujur dengan boss kita kan? Takut dianggap melawan atasan dan sebagainya. Kalau kita nyaman dengan perlakuan-perlakuan itu sih, tidak masalah. Tapi kebanyakan semuanya hanya berujung di belakang si boss saja. Hanya berakhir ngedumel yang tidak memberikan penyelesaian apapun. Jadi, lebih baik bulatkan tekad untuk merawat diri dengan tidak membiarkan diri kita tersiksa dengan sikap atasan kita.

Kritis tapi tetap sopan

            Sebisa mungkin cari alasan yang paling masuk akal, lalu ungkapkanlah dengan sopan. Contoh, misal kita disuruh untuk mengambil laundry boss dan mengantarkan kerumahnya. Tentu sangat tidak nyaman kan. Bisa tuh kita sampaikan permohonan maaf kalau sedang ditunggu dengan keluarga dirumah. Tetap tidak berbohong, karena ya memang ditunggu dirumah. 

                Jadi setelah kita berani untuk mengkritisi apa yang diminta si boss, jangan lupa juga untuk tetap menyampaikan dengan sopan. Karena bagaimanapun juga, mereka yang pegang penilaian kinerja kita. Kan bahaya tuh kalau sampai karir kita terancam hanya gara-gara masalah sepele. Tetap pahami batasan yang wajib ada antara bawahan dan atasan supaya kita tidak dicap sebagai orang yang tidak tahu etika.

Buang baper jauh-jauh

                    Sikap bossy tidak selalu menyuruh-nyuruh bawahan untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Bossy juga bisa hanya terbatas dalam ekspresi lisan yang membuat kita seketika tidak nyaman untuk berlama-lama komunikasi dengan boss. Kalau hanya sebatas lisan, sebaiknya kita tebal-tebal telinga saja. Toh, berarti memang tabiatnya seperti itu, selama tidak merugikan kita, ada baiknya kita abaikan saja. 

               Dengan menunjukkan kalau kita tidak nyaman berbicara lama-lama dengan dia, maka itu sudah cukup seharusnya untuk memberitahu secara halus kalau dia kurang diterima anak buahnya. Bisa juga kita mainkan sarkas-sarkas tipis untuk menyinggung. Misalnya ada ekspresi seperti ini : “Kamu sudah berapa tahun kerja disini kok hal sederhana begitu saja tidak tahu? Sekarang cepat eksekusi plan C, itu sudah saya pakai bertahun-tahun dan berhasil”. Ketika gagal, maka itu momen yang tepat untuk mengatakan : “Maaf pak, setelah dipakai bertahun-tahun sepertinya kadar keberhasilannya sudah habis”

                 Tidak sulit untuk memulai hal-hal diatas, karena biasanya karyawan itu sudah kritis. Hanya saja masalahnya adalah berani atau tidak untuk mulai sedikit frontal di depan boss. Selamat bekerja!

Belum ada Komentar untuk "Cara Menghadapi Boss Yang Bossy"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel