10 Kebiasaan Yang Indonesia Banget



Setiap negara pasti punya kebiasaan-kebiasaan unik yang dilakukan oleh warga negara sehingga terbentuk sebagai ciri khas. Misalnya, Indonesia, sudah lama dikenal sebagai negara yang ramah terhadap foreigner. Atau Indonesia, yang dikenal sangat mengutamakan gotong-royong dan musyawarah. Selama citra kita dikenal positif karena kebiasaan itu tidak masalah. Tapi banyak masyarakat yang tidak menyadari dirinya sedang memperkuat kebiasaan yang, unik sih, tapi memalukan citra Indonesia sebagai bangsa. Apalagi pas ada foreigner lihat, terus ketawa. Padahal bukan kita yang berbuat tapi malunya sampai ke tulang. Apa saja kebiasaan yang “Indonesia banget”?

Naik motor atau mobil melawan arus lalu lintas
Sering kan lihat fenomena ini dijalan? Mulai dari Ibukota negara, DKI Jakarta di jalur busway, hingga ke daerah-daerah, tidak sulit menemukan pemandangan ini di jalan-jalan raya. Nggak cuma 1 atau 2 kendaraan lho yang melawan arus, kadang sampai rombongan gitu. Sampai-sampai kita bingung, jadi yang jalurnya benar ini siapa ya? Karena saking banyaknya yang melawan arus. Selain melawan aturan, ini juga membahayakan diri sendiri dan orang lain lho. Bukan cuma melawan arah, tapi nggak pakai helm juga. Luar biasa.

Biasanya, alasan mereka seputar : terlalu jauh jalur untuk memutar, cari jalan pintas atau macet. Apapun alasannya, pelanggaran itu tidak bisa diterima. Terus kalau misal kita tegur, makhluk-makhluk ini juga jadi galak lho, seperti kita yang bersalah jadinya. Jangan ditiru ya. Malu-maluin

Naik motor atau mobil sambil main handphone

Nah, kalau ini baru sering saya perhatikan akhir-akhir ini sih. Makin kesini makin banyak orang yang mengendarai motor atau mobil sambil buka smartphone! Bahkan pernah saya lihat, cewek sedang mengendarai motor sambil buka Instagram! Saya juga sampai pernah berdebat dengan pengemudi mobil yang menyetir mobilnya dengan sangat pelan ditengah jalan karena sambil berkirim Whatsapp.
 
Photo by Alexandre Boucher on Unsplash
Dia bilang kalau dia penting dan saya tidak tahu apa-apa soal pentingnya dia berkirim WA. Saya balas saja, “Eh pak, kalau bapak penting, bapak itu nggak nyetir. Tapi disetirin!” Pedal gas mobilnya langsung diinjak dalam-dalam dan ngebut meninggalkan saya dibelakang. Orang-orang seperti ini tidak sadar  kalau dirinya sedang mengundang petaka. Lagian, kalau kita sudah memutuskan untuk berada di jalan raya, artinya tidak ada yang lebih penting selain dari mengendarai kendaraan kita dengan baik.

Suka heran sama orang-orang seperti ini bikin SIM nya gimana ya. Belum lagi ojol yang selalu berkilah kalau pekerjaannya memang harus terus membuka smartphone. Lalu playing victim dengan merasa ditindas sebagai profesi rakyat kecil.  Terus, memangnya kalau ojol, maut bisa melewatimu di jalan? “Oh, dia ojol, rakyat kecil, nggak jadi tabrakan deh” Kan nggak bisa juga seperti itu. Bisa berhenti sejenak si pinggir jalan kalau mau memperhatikan smartphone.

Merokok sambil naik motor atau naik mobil

Memangnya tidak bisa menahan untuk tidak merokok sejenak ketika sedang mengendarai? Bahayanya adalah abu rokok yang beterbangan bisa menganggu pengendara yang ada dibelakang. Kalau Anda menemukan pengendara semacam ini, langsung saja catat nopol nya, foto dan laporkan polisi. UU yang mengatur tentang hal ini sudah cukup jelas kok yaitu UU no 22 tahun 2009 dan Permenhub no 12 tahun 2009. Hukumannya lumayan kok, kurungan 3 bulan dan denda Rp 750.000.
Photo by Victor Xok on Unsplash
Kan ada kaca helm, kenapa tidak dipakai? Kalau ada argumen seperti ini, tidak usah takut. Jawab saja, tidak ada undang-undang yang mengatur kaca helm wajib ditutup. Yang ada hanya undang-undang dilarang merokok. Kaca helm opsional. Merokok tidak di jalan raya tidak dibenarkan sama sekali.

Melanggar rambu dan menerobos lampu lalu lintas

Ya ampun, kalau arus lalu lintas saja sudah berani dilawan, apalagi rambu dan lampu lalu lintas. Warna merah pada lampu lalu lintas itu belum tentu artinya berhenti lho. Kalau di kaki simpang sepi tidak ada kendaraan lewat ya boleh saja toh, kita lewat. Kan tidak membahayakan juga, orang tidak ada kendaraan yang lewat kecuali kendaraan saya. Begitulah kira-kira mindset sang penerobos lampu lalu lintas. Mereka hanya berhenti jika tiga kondisi terpenuhi, yaitu lampu berwarna merah dan traffic di simpang ramai. Jika hanya lampu saja yang merah, maka ya tidak bisa berhenti. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian. Amin


BACA JUGADisiplin Saja Tidak Mampu, Gimana Mau Bersaing Secara Global?

Menyerobot antrian

Ini juga salah satu kebiasaan yang paling menjengkelkan. Apalagi untuk antrian-antrian yang garis antriannya tidak tegas, ini membuat keberanian orang untuk menyerobot semakin besar. Seperti antri di pasar, kamar mandi umum di pantai atau antri di counter check in bandara,. Kita sudah dengan sabar menunggu eh, dipertemukan dengan orang-orang seperti ini. Ada yang menyerobot secara diam-diam, dan bahkan ada juga loh, yang sampai dibelain nego dengan orang-orang yang antri untuk mau duluan. Padahal tidak sedang salam kondisi buru-buru atau orang yang patut mendapat prioritas.

Memotong jalan utama dengan sembarangan

Pas sedang asyik-asyiknya mengendarai motor atau mobil, tiba-tiba dari gang disebelah kiri kita keluar sepeda motor atau mobil yang langsung masuk ke jalur kita dan menganggu jalur kita. Otomatis kita harus mengerem mendadak plus menanggung kaget akibat pengendara yang sembarangan itu. Jangankan untuk memperhatikan. Menoleh untuk memastikan ada kendaraan yang sedang melaju di jalur utama saja tidak. Mungkin orang seperti itu bikin SIM nya ngeprint sendiri di rumah kali ya.

Buang sampah sembarangan dari dalam mobil

Kalau kita sedang di dalam mobil lalu makan permen, bungkusnya kan kecil aja tuh, biasanya kita buka jendela lalu buang bungkusnya ke jalan atau simpan dulu di mobil? Kalau jawaban kita adalah simpan dulu sampai menemukan tempat sampah, berarti kita waras. Kalau kita biasanya langsung buka jendela dan buang keluar, bertobatlah dari sekarang. Kenapa saya bahas dari contoh yang kecil seperti bungkus permen saja? karena kalau bungkus permen yang kecil saja dibuang sembarangan, apalagi sampah satu kresek, ya jelas tidak ada beban untuk dibuang ke sungai

Malu bertanya

Orang-orang yang malu bertanya di jaman sekarang, terlalu keenakan hidupnya. Kenapa? Karena peribahasa malu bertanya sesat di jalan sudah tidak berlaku lagi. Sudah ada Google Maps dan Waze.  Malu bertanya ya tinggal buka handphone. Tapi malu bertanya yang saya maksud yaitu soal sikap kritis. Anda bisa survey sendiri ke teman-teman yang berprofesi sebagai guru atau dosen, berapa persen murid/mahasiswa yang memiliki antusiasme bertanya saat kelas? Kebanyakan kita pun juga demikian bukan? Alasan yang dominan adalah malu. Malu kalau pertanyaannya jelek. Malu kalau ketahuan teman-teman yang lain kita bodoh. Pendidikan kita sedari kecil kurang memiliki budaya kritis. Padahal itu yang dibutuhkan dalam real life nantinya.

Sebar info hoax di Whatsapp Grup keluarga

Nah, kalau ini termasuk kebiasaan baru sih. Hampir semua kita yang memiliki keluarga dan memiliki smartphone, juga memiliki yang namanya Whatsapp Group. Dan di dalam group teresebut pasti riuh dengan berita-berita terkini yang tidak jelas darimana datangnya. Hanya forwarded-forwarded saja tanpa mengetahui valid tidaknya informasi tersebut. Biasanya yang sering mengunggah informasi-informasi seperti itu adalah para orangtua yang  gampang amazed dengan berita yang bombastis. Yang tidak punya waktu lagi untuk mengkaji ulang informasi. Tugas kita, anak muda untuk melakukan validasi, dan meluruskan informasi dalam WA group itu agar tidak menyesatkan banyak orang. Jangan cuma di read saja ya.

Menanyakan hal private kepada orang yang baru dikenal

Adakah dari kita menyadari kalau menanyakan soal agama, sudah berkeluarga atau belum, sudah memiliki momongan atau belum, itu adalah hal yang kurang sopan? Kok bisa? Kan cuma tanya saja supaya saling mengenal. Nah, bagi yang belum tahu, menanyakan hal privat seperti itu bisa saja membuat orang terganggu. Ada jutaan topik lain yang bisa kita bahas dengan orang yang baru kita kenal. Tidak harus menanyakan hal-hal seperti itu sudah sangat membantu menjaga silaturahmi kok. Bayangkan aja, misal orang yang kita tanya itu adalah pasangan yang belum punya anak selama 10 tahun. Atau dia belum menikah hingga umur 40an misalnya. Dia harus jawab apa? Bukankah suasana akan jadi awkward?
Demikian kira-kira sedikit kebiasaan kita sebagai masyarakat Indonesia yang perlu untuk kita koreksi dan benahi. Cheer up!

Belum ada Komentar untuk "10 Kebiasaan Yang Indonesia Banget"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel