Merawat Makna Natal Yang Sejati

Tidak lama lagi, sebagian besar orang yang mengaku Kristen atau Katolik akan merayakan hari raya Natal. Menjelang bulan Desember, suasana Natal sudah sangat terasa di pusat-pusat perbelanjaan dan mall yang bahkan “lebih menjiwai” perayaan Natal dibanding orang Kristen sendiri. 

Selain suasana Natal di mall, yang menjadi penanda datangnya Natal adalah munculnya kembali larangan ucapan Natal, pelarangan atribut Natal dan semua yang jika dilakukan akan dianggap menyerupai kaum Nasrani.

Tapi ya sudahlah ya. Sepertinya bangsa kita tidak diberi kesempatan untuk melesat maju mengejar bangsa lain yang, kalau kita lihat inovasi-inovasinya membuat kita merasa seperti ada di masa depan. Bangsa  ini semacam sudah stuck dengan pembahasan, perdebatan yang setiap tahunnya bahkan bisa ditebak.

Intelektualitas masyarakat sama sekali kurang terdorong sehingga mudah untuk dibakar dengan isu SARA. Semakin kesini semakin tidak terbendung tumbuhnya hama yang bisa merusak pohon besar bernama persatuan.

Daerah-daerah kantong Kristen yang diharapkan mampu menjadi terang dan kesaksian hidup yang baik, juga tidak mampu memberikan teladan bagi lingkungan sekitarnya. Kehidupan yang liar dan tidak kudus sering menjadi batu sandungan bagi masyarakat. Ke gereja iya, mabuk setelah pulang gereja juga iya. Ke gereja iya, tapi kumpul kebo juga iya.

Tidak hanya di daerah kantong Kristen, semua manusia yang sudah jatuh dalam dosa memang lebih suka menjauh dari Tuhan daripada mendekat kepada Tuhan. Itu sudah natur kita, dosa itu ada di dalam darah kita sebagai manusia. Tidak ada manusia yang secara alami lebih suka baca Alkitab daripada bermain handphone.

Tidak ada laki-laki yang tidak tertarik melihat wanita lain yang lebih baik dibanding istrinya sendiri. Tidak ada manusia yang secara alami lebih suka berbuat baik kepada sesamanya daripada menjelekkan orang lain. Tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari jerat dosa dan tentu saja, hukuman atasnya.

Semua manusia keturunan Adam dan Hawa sudah rusak total akibat dosa dan semua yang rusak itu sudah selayaknya dibuang. Melawan Allah Yang Kekal, berarti hukumannya adalah sampai kekekalan juga. Siapa yang harus dibuang? Diri kita masing-masing. Sanggupkah kita? Punya harapan apa orang-orang yang sedang antri menuju hukuman kekal ini?

Kita kembali  berbicara soal Natal. Pernahkah kita merayakan dengan menghayati makna Natal yang sesungguhnya? Atau bagaimana jika pertanyaannya, apakah kita pernah ingin menghayati makna Natal yang sesungguhnya? Sejarah singkatnya, Natal pada awalnya adalah hari peringatan untuk dewa mataharinya orang Roma (Natalis Invictus).

Karena agama Kristen dijadikan sebagai agama nasional pada saat itu, maka hari peringatan itu dihapus dan diganti dengan memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Dari ceritanya pun, hari Natal terasa seperti tidak punya garis sejarah yang begitu penting ya? Malah bekas hari raya orang-orang pagan yang dijadikan hari Natal oleh orang Kristen.



Apa yang diperingati di dalam hari Natal itu yang penting, bukan sejarah hari Natalnya. Tidak ada agama di dunia yang mempunyai konsep keselamatan seperti ini. Bahkan tidak ada agama yang memiliki konsep Allah Tritunggal. Mulai dari sini saja konsep Ketuhanan Kristen sudah sulit untuk diterima dengan logika manusia.

Tapi coba kita renungkan, apakah keberadaan Allah Yang Mahatinggi harus menyesuaikan dengan kapasitas otak manusia yang begitu kecil ini? Apakah Kemahakuasaan Allah harus bisa dimengerti dan dijelaskan dengan logika manusia yang hidupnya saja seperti debu?

Justru secara paradoks, dalam keterbatasan kita untuk mengetahui misteri Kebesaran Allah dan di dalam ketidaktahuan, kita bisa tunduk dalam penyerahan diri sebagai manusia yang sangat terbatas kepadaNya.

Karena tidak semua hal Allah bukakan kepada kita untuk dimengerti sepenuhnya. Jika Tuhan yang tidak terbatas bisa sepenuhnya dimengerti oleh ciptanNya yang terbatas, apakah itu benar-benar Tuhan? Atau sesembahan buatan manusia?

Dari sejak Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, Allah berjanji akan memberikan Penyelamat bagi umat manusia dari hukuman dosa yang sudah diperbuat (Kejadian 3:15) Allah memelihara sejarah melalui orang-orang pilihanNya, dan melalui garis keturunan orang-orang pilihanNya itu, Yesus Kristus yang adalah Tuhan Pencipta alam semesta, turun ke dalam dunia yang berdosa menjadi seorang Manusia yang berdaging dan berdarah.

Seorang wanita bernama Maria mengandung bukan karena persetubuhan dengan laki-laki, tetapi karena Roh Kudus, dan melahirkan Yesus Kristus.

Dari sejak lahirnya, Dia menempati tempat yang paling rendah, hingga saat kematianNya, Allah memalingkan mukaNya dari Dia karena Dia begitu hina ketika menanggung dosa umat manusia.

Dia menjadi manusia seutuhnya ketika berada di dunia dan merasakan penderitaan yang begitu mendalam, dilahirkan di kandang binatang, diperlakukan seperti binatang dan mati dengan cara paling tidak hormat pada masa itu.

Tuhan yang karena sifatNya adil dan penuh kasih, rela memberikan AnakNya yang tunggal bagi dunia ini sebagai pengganti hukuman dosa yang seharusnya diterima kita manusia. Tuhan kok mempunyai Anak? Kalau mempunyai Anak siapa yang menjadi bidannya? Inilah contoh-contoh pertanyaan yang berusaha memaksakan konsep manusia kepada konsep Allah, berusaha menjelaskan Pencipta dengan kemampuan ciptaan.

Padahal banyak sekali konsep-konsep dunia yang secara samar menggambarkan hal itu. Misalnya, istilah anak tangga apakah menunjukkan kalau tangga itu beranak? Lalu apakah 1x1x1 tidak sama dengan 1? Kemudian dimensi dimana kita hidup saat ini. Bukankah kita hidup dalam ruang 3 dimensi? Apakah 1 dimensi dengan dimensi lainnya terpisah atau ketiganya menjadi 1 keutuhan sehingga bisa dihidupi? Contoh-contoh tersebut adalah penggalan-penggalan kecil konsep Tritunggal yang bisa sedikit memberikan gambaran bagi kita.

Rasul yang memiliki pemahaman jelas tentang siapa Yesus adalah Yohanes. Dari sejak membuka injil Yohanes, pasal 1 ayat 1 dengan lugas langsung ditulis Firman itu adalah Allah dan ayat 14 Firman telah menjadi daging, diam diantara kita.

Natal adalah soal mengingat Yesus Kristus yang sudah datang ke dunia. Allah yang adalah Pencipta, mau mengosongkan diri kepada manusia ciptaanNya.

Kita bersyukur Allah masih memberikan kesempatan manusia yang sudah rusak karena dosa untuk diperdamaikan dengan Dia melalui pengorbanan Yesus Kristus.  Kita bersyukur masih ada harapan bagi kita untuk tidak dibuang ke dalam hukuman kekal yang mengerikan.

Ingat, keinginan manusia yang berdosa hanyalah mengabaikan Pencipta dan hidup jauh dari Pencipta. Makanya itu saya katakan di judul kalau manusia itu butuh merawat hatinya untuk bisa diarahkan kepada kebenaran.

Kemampuan untuk merawat dan melatih hati untuk mencintai kebenaran pun manusia tidak punya sebenarnya, semuanya hanya Tuhan yang menguatkan dan beranugerah. Kiranya Tuhan menyertai kita semua

Belum ada Komentar untuk "Merawat Makna Natal Yang Sejati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel