Mendekati Akhir Tahun, Awas Muncul Resolusi Basi


         
Photo by Jamie Street on Unsplash

        Sama seperti banjir yang umum ditemui di Samarinda ketika musim hujan melanda, resolusi juga mulai bermunculan menjelang saat-saat pergantian tahun. Mulai dari tua hingga muda mempersiapkan daftar target yang akan dilakukan selama tahun yang akan datang. Berharap menjadi diri yang lebih baik, begitu kira-kira kebanyakan isi klisenya berbunyi.

          Momen pergantian tahun secara emosional memang sangat mudah memicu orang untuk merasa harus lebih baik. Tidak ada yang mengatakan bahwa hal ini salah, justru malah bagus ketika orang mempunyai keinginan untuk berubah. Yang menjadi masalah itu, bagaimana caranya membuktikan kalau komitmen untuk berubah menjadi lebih baik ini bukan hanya sekedar keinginan ikut-ikutan belaka.

Kalau resolusi yang sudah menggebu-gebu akan dikerjakan pupus di tengah jalan, siapa yang rugi? Pasti diri sendiri. Ruginya apa? Rugi kehilangan kesempatan dan waktu untuk berubah sesuai resolusi yang diinginkan. Tertunda dan tertunda lagi hingga bertahun-tahun yang akan datang. Makanya muncul juga popular opinion “Kalau tidak selesai tahun ini, ya dilanjut tahun depan”. Menjadi santai itu tidak masalah juga, tapi alangkah baiknya kalau kita bisa mengatur speed kita sendiri. Tahu kapan harus pelan, tahu kapan harus bergerak cepat mengejar zaman yang terus berlari.

Mulailah sebelum tahun baru

          Jika memang ada resolusi yang sudah kita siapkan untuk dimulai di tahun yang akan datang, ya langsung saja kerjakan. Kalau perlu besok langsung mulai. Tidak perlu juga menunggu sampai genap tahun berganti baru memulai resolusi. Jangan sampai kita terjebak mindset yang salah karena kita cuma mau ikut-ikutan momen secara emosional saja. Ada spare waktu yang bisa kita manfaatkan untuk membiasakan diri dengan resolusi yang sudah kita siapkan. Ketika sudah memasuki tahun yang baru, resolusi tersebut sudah mantap kita jalani. Sama seperti ketika kita tiba lebih pagi dikantor dibanding dengan rekan lain. Perasaan yang timbul dalam hati pasti jauh lebih tenang dan siap untuk memulai pekerjaan hari itu,  bukan?

        Dari awal bulan Desember sebaiknya (jika ingin ada perubahan, jika tidak ada, ya tidak apa) sudah kita listdown resolusi yang ingin kita jalankan di tahun yang akan datang. Jadi kita memiliki waktu untuk mulai melakukannya sambil menunggu pergantian tahun mendekat. Kalau ide resolusi itu baru muncul pada tanggal 30 atau 31 Desember, biasanya, itu hanya emosional sekilas saja. Bukan benar-benar hasrat kita yang kuat untuk menjadi lebih baik.

Tidak usah terlalu banyak dan lakukan bertahap

         Semangat boleh, tapi tidak realistis jangan. Saking semangatnya untuk menjalani tahun yang baru, listing resolusi sampai penuh kertas A4 bolak balik dan melakukannya sekaligus. Sudahlah, sudah banyak penelitian psikologis yang membuktikan kalau manusia itu memang susah menumbuhkan kebiasaan baru dan menghidupinya dengan konsisten. Satu saja susah, apalagi banyak sekaligus. Banyak boleh, tapi jangan pernah melakukannya bersamaan. Itu hanya membuat kita cepat kelelahan dan lupa dengan semua resolusi yang dibuat.

          Misal kita memiliki resolusi untuk hidup sehat dengan cara pergi ke gym 3x seminggu setelah pulang kantor dan makan sayuran setiap malam. Awal melakukannya pasti sangat mudah dan. Tapi setelah 3 bulan kita pergi ke gym dan makan sayur dengan konsisten, sudah tentu kita mulai bosan dan perlahan meninggalkannya.

Cara terbaik untuk melakukannya adalah mulai dulu dengan pergi ke gym setiap 1 minggu sekali. Setelah sebulan kita berhasil menjalananinya, tingkatkan menjadi 2 kali seminggu dan 3 kali seminggu pada bulan berikutnya. Baru bulan berikutnya lagi, kita memulai untuk makan sayur setiap 2 kali seminggu pada malam hari.

Jika  ingin kebiasaan baik kita berjalan selamanya, maka lakukanlah dengan perlahan. Jika hanya ingin bertahan jangka pendek, maka silahkan lakukan semuanya dengan bersamaan. Dengan melakukan bertahap seperti ini, diri kita akan merasa tertantang untuk melakukan bagian yang lebih sulit. Dan pikiran kita sudah mulai menerima bahwa resolusi kita, telah menjadi kebiasaan. Bukan lagi sebagai perjuangan menyangkal diri yang sulit.

Ubah lingkungan

             Lingkungan dimana kita menghabiskan waktu paling banyak, disitulah kita banyak menerima pengaruh darinya. Jika kita merasa lingkungan kerja kita tidak mendukung untuk resolusi kita berjalan dengan baik, tidak ada salahnya untuk mengevaluasinya kembali. Apakah itu atasan kita, bawahan kita, rekan sejawat atau malah budaya kerja kantor yang memang tidak sejalan dengan nilai-nilai kita. Pilihan untuk resign adalah pilihan terakhir yang bisa kita ambil jika tidak ada jalan lain.
        
        Termasuk juga dengan circle pertemanan kita. Relasi macam apa yang selama ini dikembangkan dari teman-teman kita? Apakah dari circle ini saya makin merasa insecure? Apakah dari circle ini saya makin merasa sulit untuk bersyukur? Apakah dari circle ini saya terus mendapat pengaruh buruk untuk pergi ke dunia malam? Tidak bisa dipungkiri kalau circle kita membawa pengaruh signifikan pada nilai-nilai yang kita anut.

          Sebisa mungkin hindari lingkungan yang membawa pengaruh buruk bagi berjalannya resolusi kita. Setidaknya, kurangi waktu yang kita habiskan untuk mereka jika belum bisa untuk menghilangkan sama sekali. Carilah lingkungan sosial yang bisa membangun kita secara positif.

Akui kegagalan-kegagalan pada tahun ini

         Berdamai dengan setiap kegagalan yang kita terima pada tahun ini akan membawa dampak psikologis yang lebih baik bagi kita untuk menjalani tahun yang akan datang. Tidak perlu malu karena kegagalan itu harus diterima sebagai sesuatu yang biasa dan wajar.


 Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak pernah gagal. Terlalu banyak mengonsumsi sosial media menyebabkan kita gampang insecure ketika melihat pencapaian-pencapaian orang yang luar biasa. Padahal kita tidak tahu ada berapa banyak kegagalan dibaliknya.  Tahun ini karir saya menurun, tahun ini saya belum juga menikah, tahun ini saya mengalami penurunan performa, tahun ini saya tidak lulus PTN dan masih banyak lagi kegagalan yang entah kenapa malu untuk diakui. Semakin kita tidak menerima kegagalan kita terekspos, maka semakin tertekan hidup kita dan semakin sulit untuk fokus menggapai keberhasilan selanjutnya

            Menjalankan resolusi memang tidak se enteng ucapan para motivator-motivator ternama itu. Tetapi selalu ada cara untuk menjadi lebih baik, asal kita tidak terjebak dengan paradigma-paradigma klise yang ada disekitar kita. Selamat menjalani komitmen, selamat menjalani tahun yang baru!

Belum ada Komentar untuk "Mendekati Akhir Tahun, Awas Muncul Resolusi Basi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel