Biasakan Berteman Dengan Kegagalan Sejak Kecil


Siapa sih yang mau disebut sebagai orang gagal? Sejak kecil, orangtua kita mengharap kita untuk jadi “orang”, kok malah ini disuruh berteman dengan kegagalan sejak kecil. Ketakutan dengan yang namanya kegagalan itu sudah tua umurnya, setua peradaban manusia. Manusia pertama yang diciptakan juga pada akhirnya gagal memenuhi tujuan hidupnya dan jatuh dalam dosa.

Lho, karena apa? Karena takut kepada kegagalan dalam memenuhi pengetahuannya akan yang baik dan yang jahat. Takut di cap gagal karena tidak akan memiliki pengertian yang sempurna akibat tidak mau memakan buah terlarang. Jadi akhirnya, malah gagal segagal-gagalnya kan.

Pada dasarnya, manusia memang tidak suka untuk dicap rendah oleh manusia lainnya. Rendah dalam taraf dan aspek apapun itu.

Lalu kita mesti jadi low achiever saja? Jangan-jangan berteman dengan kegagalan sejak kecil itu maksudnya supaya kita jadi orang yang pasrah saja? Tidak ada hubungannya sama sekali! Lalu di era sekarang yang serba cepat dan media yang serba terbuka, kira-kira mana yang lebih enak untuk dipamerkan, punya mobil baru atau anak yang tidak naik kelas? Pekerjaan yang biasa-biasa saja, atau pekerjaan yang bergengsi? Jelas lebih nyaman mempertontonkan kemewahan, kemudahan, dan kelancaran hidup.

Dalam pola interaksi sosial yang seperti ini, tekanan demi tekanan lama kelamaan menjadi besar dan menimbulkan depresi mendalam bagi orang yang sedang tidak sehat jiwanya. Kalau kata Thanos : “I am inevitable”. Ya benar, kegagalan itu tidak mungkin dihindari oleh siapapun dan kapanpun.

Baca Juga  : Fenomena Panjat Sosial Dan Kegaduhan Masyarakat


Kegagalan adalah sebuah keniscayaan. Jadi harus dibiasakan untuk diterima keberadaannya sejak kecil. Kita saja ketika baru belajar berjalan lalu terjatuh, memangnya orangtua kita langsung memarahi kita? Jelas tidak kan. Orangtua membantu kita untuk bangkit berdiri dan berjalan lagi. Tapi entah kenapa, lama kelamaan kegagalan jadi sesuatu yang sulit diterima.

Makin kita bertambah dewasa, toleransi untuk gagal itu seolah-olah makin menipis. Dunia penuh dengan pameran orang-orang yang berhasil. Anak-anak muda yang  pencapaian hidupnya luar biasa. Ada yang karena kerja keras, privilege keluarga, dan apapun itu.

Membuat sebagian orang merasa kecil dan tak berarti dengan keberadaan orang-orang berhasil ini. Karena tidak terbiasa hidup berteman dengan kegagalan. Padahal, kita tidak tahu juga seberapa banyak air mata, darah, keringat dan kesulitan untuk meraih keberhasilan itu.

Pandanglah kegagalan sebagai sesuatu yang normal. Sebagai sebuah tahapan hidup yang memang harus dilalui untuk menjadi besar. Tantangan untuk berdiamdan bertekun dalam kegagalan jauh lebih besar memang di zaman ini. Zaman dulu pembanding-pembanding paling jauh mungkin hanya tetangga-tetangga sekitar rumah.

Namun sekarang, setiap hari ketika membuka sosial media kita terus membandingkan, terus profiling orang lain, hingga akibatnya kalau bukan kita yang depresi, maka akibat lainnya adalah kita yang sombong. Jika dari kecil kita sudah terbiasa dengan kegagalan, maka menjadi gagal bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, bukanlah aib yang harus dipendam.

Ia wajar dan sangat manusiawi. Sikap seperti ini harus terus dilatih. Hingga kita mampu dengan besar hati jatuh dalam kegagalan, tapi juga mampu membangkitkan semangat diri untuk melanjutkan perjuangan.

Maka berkompetisi sehatnya memang dengan diri sendiri. Ukuran keberhasilan itu jika kita bisa lebih baik daripada diri kita yang sebelumnya. Bukan lebih baik dari orang lain. Selamat menikmati kehidupan yang sudah diberikan kepada kita. Mari kita belajar untuk mencintai kegagalan sebagai proses, namun memiliki kekuatan berkali lipat untuk bangkit.

Belum ada Komentar untuk "Biasakan Berteman Dengan Kegagalan Sejak Kecil"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel