Profil Ahok : Antara Prestasi Dan Kontroversi

Siapa yang tak kenal Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama? Pria asal Belitung ini memang memiliki sejuta kesan di hati masyarakat Indonesia. Mulai dari prestasi hingga kontroversi, dirinya cukup dikenal. Bahkan kisah hidup Ahok sudah dituangkan ke dalam buku, yang juga di adaptasi menjadi film, yaitu A Man Called Ahok. Bagi yang belum mengetahui sosok beliau, berikut biodata singkatnya

Nama                                   : Basuki Tjahaja Purnama
Tempat, Tanggal Lahir        : Manggar, 29 Juni 1966
Pendidikan                          : S1 Teknik Geologi Universitas Trisakti 
                                              S2 Manajemen STIE Prasetiya Mulya
Kebangsaan                         : Indonesia
Karir                                    : 2005-2006 Bupati Belitung Timur Pertama
                                               2009-2012 Anggota DPR RI
                                               2012-2014 Wakil Gubernur DKI Jakarta ke-8
                                               2014-2017 Gubernur DKI Jakarta ke-15
                                               2019-sekarang Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero)
Tinggi Badan                       : 180 cm
Agama                                 : Kristen Protestan


Pria berusia 53 tahun ini baru saja ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero), setelah melalui beberapa gelombang penolakan dari Serikat Pekerja Pertamina.

Ahok bisa dibilang adalah sebuah fenomena. Tidak tentu dalam 50 tahun ke depan muncul orang seperti beliau. Di dalam setiap langkah hidupnya seolah-olah selalu ada hal yang bisa dibagikan dan dijadikan pelajaran oleh orang lain.


Dimulai dari Belitung Timur, karir politiknya diawali dengan menjadi Anggota DPRD disana pada tahun 2004. Perjalanan menjadi seorang pejabat pemerintah dari kalangan minoritas, jelas bukanlah pekerjaan yang mudah. Sudah Cina, Kristen lagi. Ah sudahlah. Anda bisa cek di youtube bagaimana Ahok berkampanye ketika di Belitung Timur. Keinginannya untuk terjun ke dunia politik diawali dengan niat untuk melayani masyarakat. Melihat kebobrokan demi kebobrokan yang nyata di hadapannya, dan juga orang-orang Belitung Timur yang sudah tidak punya kepercayaan lagi kepada wakil rakyat, inilah yang menggerakkan hatinya untuk memasuki dunia politik. Karena niatnya untuk melayani masyarakat, maka yang dilakukan ketika kampanye, ya menawarkan diri kepada masyarakat, apa yang bisa dia lakukan. Dia sering menggelar dialog-dialog terbuka langsung dengan warga dan juga suka datang langsung ke pasar. Kedekatannya dengan warga pun sungguh terasa pada saat itu. Nomor handphone pribadinya bahkan sangat mudah untuk dihubungi warga.

Prinsip ini yang sangat penting dipegang oleh orang-orang yang berencana untuk mengabdi kepada rakyat. Bukannya berusaha membuat rakyat menerima sebagai wakil rakyat, tapi malah keluar modal mati-matian untuk bisa memperoleh jabatan wakil rakyat. Sampai stress pula. Dari sini saja sudah ketahuan motivasinya seperti apa sih kebanyakan orang-orang yang ingin maju menjadi wakil rakyat.
Dari Belitung Timur itulah prestasi-prestasinya mulai ditorehkan. Media mulai melayangkan sorotnya kepada Ahok. Bahkan Gus Dur pun pernah berkampanye untuknya ketika Ahok mencalonkan diri menjadi Gubernur Bangka Belitung. Gus Dur mengakui program terbaik Ahok saat itu, yaitu membebaskan seluruh biaya kesehatan bagi warganya.


Merasa hasratnya untuk mewujudkan keadilan sosial semakin terbuka lebar, Ahok juga semakin memberanikan diri untuk mengambil posisi yang memungkinkan dirinya menjadi showcase, yaitu Gubernur DKI Jakarta. Kisahnya ketika di DKI inilah yang benar-benar banyak menyita perhatian public. Ketika menjabat Gubernur, Ahok tidak lupa akan kebiasaannya dulu ketika masih di Belitung Timur yaitu bagaimana caranya untuk dekat selalu dengan rakyat dan mendengar keluhan mereka langsung. Setiap hari dia mempersilahkan warga untuk datang ke balaikota dan menyampaikan apa saja yang ingin disampaikan kepada Ahok langsung. Prestasi Ahok ketika berada di DKI Jakarta juga tak bisa dibilang remeh. Penataan bantaran kali, percepatan pembangunan MRT, dan yang paling penting reformasi di dalam tubuh birokrasi Pemprov DKI.  Keberadaannya sangat dielu-elukan oleh sebagian besar rakyat DKI dan dibenci hingga ke tulang oleh orang-orang yang tak suka dengannya

Ahok masih tetap manusia biasa yang tidak mungkin sempurna. Banyak isu tak sedap yang ia terima selama menjabat sebagai Gubernur DKI. Salah satunya adalah kasus pembelian tanah untuk RS. Sumber Waras. Sampai saat ini pun penanganan kasus ini belum jelas oleh KPK. Hingga puncaknya adalah ketika kasus penistaan agama menimpa dirinya. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos menempatkan Ahok pada situasi yang sama sekali tidak perlu untuk dia lalui saat itu. Dan tentu saja, momentum ini dimanfaatkan oleh semua musuhnya untuk melengserkan dia.

Sepertinya Tuhan mengizinkan Ahok untuk dididik dalam kehendakNya. Sudah dipenjara, keluarga bermasalah pula. Benar-benar saat yang menyakitkan buat Ahok. Semua serasa dirampas darinya. Ahok mengakui, hal paling banyak yang dia pelajari selama di dalam penjara adalah kerendahan hati. Dengan segala prestasi dan segala puja puji rakyatnya kepada dia, Ahok telah kehilangan penguasaan diri. Kesombongan mungkin melingkupi hatinya. Wataknya yang keras pun semakin keras, hingga akhirnya Tuhan meruntuhkan semua itu. Belum lagi orang-orang gereja yang mengecam keputusannya untuk bercerai. Banyak sekali dari yang awalnya mendukung, mengidolakan, lalu akhirnya pun jadi memandang sebelah mata akibat keputusan yang dia ambil untuk keluarganya.


Saya pernah memperhatikan secara langsung dari dekat bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana dia tidak henti-hentinya mempunyai bahan obrolan dan sangat mendominasi pembicaraan. Sangat terasa kuat sekali aura kepemimpinan beliau. Dia tipikal orang yang tidak mundur sedikitpun ketika harus berdebat dengan 100 orang sekaligus. Boleh dibilang juga, sulit untuk mengalahkan dia dalam adu argumen. Malah saya sempat menduga-duga, wah, kalau begini caranya, mungkin saja dulu Ibu Veronica juga sering kalah adu mulut hingga akhirnya tidak betah.

Bagaimanapun juga sulit menyangkal pengaruhnya yang kuat di masyarakat. Ingat saat Ahok pertama kali mencoba MRT saat baru keluar dari penjara? Warga-warga DKI menyambutnya bak national treasure yang telah lama terpendam. Seolah-olah dia ini masih seorang Gubernur DKI. Dan terbukti pun Presiden Jokowi menunjuknya untuk jabatan strategis, yang artinya Ahok tidak bisa dipinggirkan hingga saat ini. Kemampuan pengawasan Ahok sangat kuat sekali sampai mampu meyakinkan Tim Penilai Akhir untuk memangku posisi tersebut.

Kita doakan saja Ahok dengan segala prestasi, kontroversi, dan sepak terjangnya agar bisa memberikan kontribusi positif bagi bangsa ini. Pun begitu juga dengan pejabat-pejabat pemerintah lainnya, agar diberikan hati yang mau tunduk kepada kebenaran dan tidak takluk kepada nafsu diri yang duniawi.

Belum ada Komentar untuk "Profil Ahok : Antara Prestasi Dan Kontroversi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel