Millenials, Pilih Mapan Atau Menikah Lebih Dulu?

Generasi mayoritas zaman ini atau biasa kita kenal sebagai Millenials, seringkali diperhadapkan dengan pilihan lebih baik hidup mapan atau menikah lebih dulu. Kebingungan ini jelas tidak berlaku bagi orang-orang yang sudah terlahir kaya, atau berasal dari keluarga yang cukup secara finansial untuk membiayai ini dan itu, atau yang sejak muda sudah berhasil membangun bisnis.

Pertanyaan ini hanya bagi mereka yang masih membangun kekayaan mereka dari nol, yang mana, kategori ini adalah mayoritas di negara kita.  Nah, saya akan membahas hal ini dari pengalaman saya sendiri sebagai millenials, dan juga sebagai orang yang, sedihnya, masuk kategori perlu memilih mapan atau menikah lebih dulu. Perlu diketahui juga, darimana asalnya pandangan seperti ini. Kok seakan-akan harus memilih gitu sih, memangnya korelasinya apa mapan dengan menikah?


Di era post modern ini, dimana standar kebenaran di reduksi jadi menurut subyek, setiap orang jadi memiliki standar hidup yang sangat personal. Ditambah kemudahan internet yang merajalela, setiap standar hidup tersebut sangat mudah di refleksikan dan terekspos ke semua orang.

Pengaruh dari yang lebih besar akan lebih mudah diterima khalayak daripada pengaruh yang kecil. Jadi yang terbakar adalah gengsi dan ambisi. Sebenarnya, dari zaman dulu juga manusia pada dasarnya suka dihormati orang, suka dipandang, suka dianggap tinggi secara status, pada intinya suka lebih tinggi dari manusia yang lain. Belum lagi ditambah tekanan dari keluarga dan orangtua yang menginginkan selebrasi pernikahan yang meriah.

Nah, hal-hal inilah yang menjadi bahan bakar anak muda yang sudah memasuki tanggung jawab untuk mencari nafkah sendiri. Sekian lama asyik mencari nafkah, tidak terasa usia terus bertambah dan sudah saatnya memasuki fase hidup lainnya, yaitu menikah. Tapi ketika melihat diri, tabungan pun belum mencukupi untuk modal nikah, belum punya aset apa-apa dan berbagai kekurangan lainnya. Sementara ketika melihat orang lain yang sebaya, sudah ada yang penghasilannya jauh melebihi diri kita, bahkan sudah menggendong bayi. Disinilah krisis dimulai.

Kata “mapan” itu sendiri saja, sudah mengandung banyak relatif di dalamnya. Ada yang bilang mapan itu sudah punya jabatan tinggi di pekerjaan, punya gaji tinggi, punya rumah, punya kendaraan roda empat, punya tabungan, dan punya aset yang bernilai besar. Ada juga yang bilang mapan itu paling tidak punya pekerjaan, punya rumah, dan punya mobil.

Ada juga yang bilang mapan itu punya pekerjaan dan punya rumah saja sudah cukup. Saya pun punya definisi sendiri soal mapan, dan anda pembaca sekalian juga pasti punya definisi sendiri. Saya tidak memberikan jawaban pasti mana yang lebih baik untuk dilakukan terlebih dahulu, tapi saya akan berikan prinsip-prinsipnya. Jadi sekarang, apakah kata mapan ada batasnya? Tidak. Jadi, sampai kita akan meninggalkan dunia ini pun, bisa saja kita masih mengejar kemapanan hidup. Lalu kalau sampai tua mengejar kemapanan hidup, menikahnya kapan?

Kemapanan tidak seharusnya menjadi standar untuk memulai kehidupan pernikahan, karena kehidupan pernikahan tidak menuntut itu. Apalagi jika kita sudah memiliki pasangan, berada pada umur yang cukup, memiliki pekerjaan, dan  hati yang siap untuk membina keluarga. Lalu kita menunda hanya karena belum mapan dan bahkan kita tidak tahu harus mapan sampai dimana? Itu sudah merupakan kesalahan besar menurut saya.

Kalau belum punya calon, ya sudah tidak mungkin kita bahas lebih lanjut. Terus bagaimana dengan orangtua yang menuntut untuk mempersiapkan acara yang meriah, ingin mengundang orang banyak untuk datang, sementara dana yang terkumpul juga belum cukup? Satu-satunya cara yang paling baik adalah mediasi dengan orangtua. Cari waktu yang terbaik untuk berbicara panjang lebar dengan orangtua mengenai niat baik kita. Tapi jangan keluarkan kata-kata yang menyakiti hati orangtua ya, bisa-bisa masalah jadi tambah runyam.

Lalu, Menikah Dulu, Karena Menikah Membawa Rezeki?

Bahkan sebenarnya harus disadari, ada jauh yang lebih penting dibandingkan kemapanan, yaitu yang saya sebutkan terakhir tadi, yap betul, hati kita. Apakah hati kita siap untuk menikah? Karena menikah itu bukan perkara senang saja, bukan perkara mendapatkan kepuasan seksual saja, bukan perkara sudah tidak tahan mendengar cerewetnya orangtua yang pengen punya cucu (iya, kalau dikasih anak), bukan perkara memenuhi omongan orang yang sinis.

Bukan.

Tidak sedangkal itu. Apalagi berpikiran mau menikah, demi mendapatkan kemapanan lebih. Kembali lagi, tujuan menikah itu apa? Menikah adalah komitmen untuk saling mencintai, saling melengkapi satu dengan yang lain, dan saling berkorban satu sama lain. Kelihatannya bahagia bukan? Namun jika hati kita tidak siap, maka kita akan memasuki neraka dunia. 2 orang yang sejak kecil hidup berbeda lingkungan, berbeda pandangan, berbeda karakter, berbeda semuanya.

Lalu hidup bersama-sama setiap hari, saling menerima keluarga masing-masing yang juga berbeda, nah, kalau tidak ada komitmen, maka relasi keduanya hanya relasi formalitas belaka. Kalau ada tujuan selain itu, maka bersiaplah untuk kecewa. Misal, menikah dengan tujuan punya anak, lalu ternyata Tuhan tidak mengizinkan untuk memiliki anak.

Apa yang kita rasakan? Lalu menikah dengan tujuan mendapat kepuasan seksual, lalu ternyata pasangan kita suatu saat mengalami keterbatasan untuk berhubungan seksual. Apa yang kita rasakan?  Atau menikah dengan tujuan untuk mendapatkan rezeki lebih, namun ternyata rezeki yang diterima juga segitu-segitu saja. Pasti kita akan kecewa.


Saya sendiri menikah di usia 25 tahun, setelah berpacaran kurang lebih selama 2 tahun sebelum menikah. Awalnya, saya sama sekali tidak ada keinginan untuk menikah hingga saya memasuki usia 28 tahun, alasannya? Alasan saya adalah karena ingin membangun kemapanan itu tadi.

Saya merasa waktu saya cukup hingga usia 28 untuk memperoleh kemapanan sesuai standar saya dengan pekerjaan saya saat itu, dan memulai sebuah keluarga. Tidak disangka, saya bertemu dengan wanita yang saya cintai pada saat saya umur 23 tahun, dan 2 tahun kemudian menikahinya. Soal kemapanan? Kami yakin, kebahagiaan karena kemapanan tidak mungkin mengalahkan kebahagiaan saling mencintai. Kalau di dalamnya ada cinta, maka tidak ada itu yang namanya saling berkorban.  Semua dilakukan karena cinta. Korban hanya pantas disebut ketika yang menjadi subyeknya tidak rela untuk menjalani peran sebagai yang dikorbankan.



Belum ada Komentar untuk "Millenials, Pilih Mapan Atau Menikah Lebih Dulu?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel