Sang Pacar


Pagi itu langit Balikpapan lumayan gelap, tidak secerah biasanya padahal ini bulan Juni, harusnya masih musim kemarau.  Tapi ya tidak tahu, namanya juga kuasa Tuhan. Cuaca begini nih yang bikin siapapun males kemana-mana.  Kecuali dia punya urusan urgent diluar, mungkin nggak males. “Hmmm.. berangkat kerja gak ya” gumam Ica sambil mengubah posisi tidurnya dari menghadap kanan ke menghadap kiri. Jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang seperempat. Tak lama setelah guling-guling kanan kiri kurang lebih 4 kali, dia akhirnya keluar kamar dan menyambar handuk yang ada di jemuran samping. “Caa, masih lama gak??! Ayo aku sakit perut, kebelet nah!” gedor Tony sepupu Ica  yang juga buru-buru akan berangkat bekerja. “Bentar ah, orang baru masuk!” balas Ica. “Cepetan! Kalau netes disini kamu mau tanggung jawab?!” ancam si Tony. “Iya iya ah ribet” Ica mempercepat guyuran gayungnya. Ica tinggal dirumah tantenya karena rumah orangtua Ica ada di Samarinda. Langit makin mendung dan makin sulit menahan air yang mau turun. Ica juga makin buru-buru bersiap untuk berangkat. Dia punya mantel hujan, tapi banyak bolongnya karena sering digigit Asep, anjing peliharaan tante dirumah pas waktu dijemur. Jadi percuma kalau dipakai. “Berangkat yaa Mak!” pamit Ica kepada tantenya yang sedang mengupas bawang di dapur. “Iyaaa ati-ati kamu mau hujan deras itu kayanya” sahut tantenya. Di kantor belum ada siapa-siapa. Ada ding, pak Santo security kantor yang kalau senyum ketutupan sama kumis tebalnya itu. Bunyi hujan menghantam atap kantor terdengar hingga ke dalam ruangan. Petir menggelegar tidak karuan berebut target sambaran di bumi. “Fiuh, untung aja udah sampai duluan, hampir aja kuyup!” batin Ica lega. Satu dua orang mulai berdatangan sambil basah-basahan. “Duuh, pagi-pagi udah becek aja nih” keluh Santi. “Tadi aku untung banget udah masuk kantor baru ujan San” tanggap Ica. Santi cemberut sambil menyalakan hairdryer nya, lalu mengarahkan ke rambutnya yang sudah lepek kayak kucing habis disiram majikannya. Pikiran Ica melayang-layang setelah melihat postingan Instagram temannya yang sedang fitting wedding gown. Dari wajahnya tersirat kekaguman sekaligus pengen seperti postingan itu. Hari-harinya memang dipakainya untuk sabar dan mempersiapkan diri menuju kepada saat-saat bahagia itu, saat dimana pangerannya melamarnya, saat dimana dia masuk ke ruang fitting gown. Nyaris sewindu sudah umur hubungan Ica dan pacarnya, dan selama 4 tahun terakhir Ica mulai berangan-angan untuk segera mengakhirinya. Mengakhiri ke pelaminan maksudnya. Namun entah apa yang membuat semuanya urung juga terlaksana hingga saat ini. “Woy, ngelamun apa!” bentak Santi yang rambutnya sekarang sudah kering akibat di semprot hairdryer. Setelah kering ternyata rambutnya mengembang, jadi kayak Simba. Santi ini masih lajang juga, siap menikah dan berasal dari keluarga baik. Informasi ini berguna, siapa tahu dari kalian ada yang berminat meminang Santi. “Apa sih?! Rambut tuh kayak Simba” olok Ica. “Biarin yang penting cantyeekk” kata Santi sambil membuat wajahnya jadi lebih imut sedikit dengan cara menyilangkan jari di dagu dan memonyongkan bibir. 


Hari ini tidak ada lagi ucapan selamat pagi atau selamat bekerja dari pacar Ica. Ya walaupun dia sudah tidak pernah mempermasalahkannya lagi, tapi tetap saja namanya wanita, pasti mendambakan perhatian-perhatian kecil yang bisa bikin senyum-senyum sendiri. Ica sekarang sudah terbiasa dicuekin seperti itu, dan masih tetap berharap sang pacar bisa membangun kehangatan lagi dengannya, apalagi saat hujan-hujan dan dingin seperti ini. Kadang dia juga maklum sih, memang usia hubungan yang sudah cukup lama, jadi penyebab sudah tidak ada lagi jaga image, tidak ada basa-basi, tidak ada gombalan-gombalan, dan romantic things lainnya. Tapi Ica juga kadang bertanya pada diri sendiri, apa iya memang yang tersisa harus suasana dingin seperti ini jika sudah lama berpacaran. Tiba-tiba dia terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang sudah sangat lama sekali dia tidak lakukan. Yaitu menanyakan kejelasan kapan sang pacar akan membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Sebenarnya dia sudah pernah menanyakan hal yang sama sekitar 4 tahun yang lalu. Namun jawaban yang dia dapatkan saat itu hanyalah permintaan lembut dari pacarnya untuk bersabar, karena sang pacar pun sedang mengusahakan hal yang sama. Semenjak itu Ica tidak pernah membahas lagi soal menikah, dia ingin menghargai dan memberi waktu pacarnya untuk membuktikan perkataannya. Dan sekarang Ica merasa waktunya sudah tepat untuk memperjelas lagi semua ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 3, hujan sudah mulai berhenti, matahari mulai menunjukkan sinarnya lagi. Ica memberanikan diri untuk mengirim pesan Whatsapp ke pacarnya untuk mengajak kencan. Sudah 3 minggu mereka belum bertemu, padahal sang pacar hanya tinggal di kota sebelah yang berjarak 2 jam dari Balikpapan. Bersambung…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel