Fenomena Panjat Sosial dan Kegaduhan Masyarakat

Pergaulan zaman ini mendorong masyarakat untuk always climbing to the top of society for happiness. Alias panjat sosial. Pergaulan yang seperti apa? Pergaulan yang secara rutin menuntut kumpul-kumpul dengan teman satu geng di tempat fancy minimal untuk bahan instastories, pergaulan yang continuously comparing each other achievements, pergaulan yang sulit menerima kelemahan dan dengan mudah meminggirkan orang-orang yang tidak mampu berenang mengikutinya. Secara tidak sadar pun, begitu banyak orangtua yang mendidik anak sedari kecil di dalam spirit seperti ini : belajar yang baik ya nak, supaya besar nanti bisa jadi “orang”. We all know that “orang” meaning right? Not literally orang, tapi orang yang terpandang secara sosial, memiliki tingkat ekonomi yang baik, dan mampu membahagiakan keluarganya. 

Jelas tidak ada yang salah jika kita melihat sepintas dengan hal ini, karena apa salahnya kalau kita memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri? Seperti bunyi dari popular opinion : jika bukan diri kita sendiri yang membahagiakan kita, lalu siapa lagi yang akan kita harapkan? Namun jika kita renungkan,  pada akhirnya dengan spirit seperti itu, generasi sedang terbentuk menjadi generasi yang penuh ambisi, bahkan hal-hal yang tidak mampu kita kontrol sebagai manusia pun parahnya juga dijadikan bahan kompetisi. Contohnya pertanyaan-pertanyaan : “Kapan kawin?”,”Kapan punya anak?” dan seterusnya. Ambisi itu muncul dari mana? dari harapan dan kultur untuk selalu menjadi “orang” itu tadi. 

Seringkali dengan membaranya ambisi, empati pun jadi ikut padam. Kepekaan terhadap lingkungan sekitar menjadi minim bahkan tidak ada. Compassions menjadi kering, karena semua energi tersita untuk memikirkan bagaimana caranya menjadi “orang”. Yang setia menunggu hanyalah depresi, jika kuat bisa melewatinya, maka selamat!! Anda telah menjadi “orang”. Society akan respect, hati boleh berbangga, karena semua diperoleh dari hasil ketangguhan diri menjalani hidup. Begitu seterusnya berlanjut bagi generasi-generasi selanjutnya, such a perpetual cycle. Melelahkan bukan? Hidup ditengah kegaduhan masyarakat yang begitu menggerus kita. 

Kalau dipikir-pikir, semua berawal dari apa yang diterima seorang anak dari dalam keluarga. Apakah dorongan terus menerus untuk menjadi yang teratas? Jika tidak menjadi yang terbaik maka hanya kemarahan yang didapat? Jika terjatuh, maka hanya umpatan dan cemoohan yang kita dapatkan? Keluarga menjadi faktor penentu dalam tumbuh kembang anak. Truly accepting in every conditions, membuat seorang anak akan merasa dimiliki dan dampaknya bukan hanya di keluarga saja, namun juga pada bagaimana cara dia memperlakukan pergaulannya diluar sana, sekarang maupun nanti ketika sudah dewasa. 

Dari kecil dia akan terhindar dari kelelahan-kelelahan dan frustasi yang tidak perlu akibat tidak menjadi yang teratas dalam lomba panjat sosial. Bukan berarti mengajarkan untuk pasrah, tetapi belajar untuk memberikan kemampuan yang terbaik, sambil menyerahkan hasilnya kepada Sang Pemberi, apapun hasilnya. Bicara kemampuan, itu berarti setiap orang memiliki keunikannya sendiri. Memang sistem kurikulum kita masih belum bisa mengakomodir hal ini, namun setidaknya di rumah seorang anak masih mendapat apresiasi dari keluarga yang mengenal keunikannya. Akhirnya, terbentuklah masyarakat yang teduh, tidak gaduh, tidak berebut, saling berlomba berempati, high achiever (uniqueness highly appreciated), dan yang paling penting, masyarakat menjadi santuyyyyy. 



Gambar oleh Grae Dickason dari Pixabay


Okay, setidaknya sudah ada gambaran tentang what is exactly driving people become a “climbers”. Sekali lagi, pandangan ini bukan berarti kita harus jatuh di ekstrim yang lain, bahwa tidak perlu menjadi high achiever, bukan seperti itu. Tetapi lebih kepada sikap kita, dan bagaimana membentuk generasi kita untuk menjadi lebih manusiawi.

Some people said, sebenarnya banyak orang sudah mati jauh sebelum dia mati. Kenapa? Karena memang tidak pernah benar-benar hidup. Digerakkan oleh satu energi yaitu rasa takut. Takut terhadap apa? Takut tidak bisa makan enak, takut tidak bisa bayar cicilan mobil, takut anak-anak nanti tidak punya masa depan jika nilai matematikanya jelek, takut orang akan menilai kemampuan financial kita rendah, takut tidak bisa tampil dengan barang bergengsi, takut tidak bisa punya rumah, takut dilihat orang kerja di perusahaan kelas tempe, takut ketahuan gajinya kecil, takut dipermalukan keluarga kalau tidak bekerja sebagai PNS, takut jika dilihat tetangga anaknya tidak kuliah (padahal anaknya ingin berbisnis), dan takut-takut lainnya yang jauh di dalam hati, menggerakkan kita untuk terus ngotot bergerak naik.

Basically, semuanya self-centered, ujung-ujungnya berusaha memikirkan diri sendiri kok. Ada penggerak lain yang jauh tidak kalah powerfulnya kok, stress-free, dan penuh empati. Namanya cinta. Jelas cinta itu stress-free dan tidak punya efek destruktif, kecuali cintanya berlebihan itu baru berbahaya. Orang bisa saja bekerja tidak sesuai passion, tapi karena cintanya dengan istri dan anak-anaknya, dia rela bertahan.

Orangtua bisa saja memaksa anaknya untuk les matematika demi bisa punya prestasi membanggakan, namun karena cinta, orangtuanya merelakan dia untuk belajar melukis sesuai dengan keahliannya. Seorang pria yang bekerja jauh dari rumah dan bergaji besar, bisa saja berani meninggalkan pekerjaannya dan mendapat gaji lebih kecil demi bisa dekat dengan keluarganya. Seorang wanita yang memiliki jabatan tinggi di dalam pekerjaannya, status sosial tinggi, bisa dengan rela meninggalkan semua itu demi mengurus anak-anak nya dirumah. Seorang anak dengan kemampuan belajar dibawah rata-rata, tetap bisa bahagia karena dia punya keluarga yang mencintai dia. You name it. Semua berawal dari keluarga. Demi masyarakat yang lebih sehat.





Belum ada Komentar untuk "Fenomena Panjat Sosial dan Kegaduhan Masyarakat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel